Senin, 23 Juni 2014

Menyontek? No Way!



Menyontek, kata yang sangat tidak asing bagi kehidupan para pelajar. Banyak yang beralasan melakukan kegiatan tersebut agar mendapat nilai yang bagus. Ya, memang. Dari alasan itulah, menyontek masih dilakukan walaupun salah.
            Pada 2008, Institut Josephson menyurvei hampir 30.000 murid SMA di Amerika Serikat, dan 64 persen mengaku menyontek saat ujian pada tahun itu. Namun, survei lain memperkirakan bahwa jumlah sebenarnya bahkan lebih tinggi—lebih dari 75 persen.
Di Eropa, menyontek juga sudah menjadi masalah serius, khususnya plagiarisme. ”Situs Web yang menjual esai para murid, tesis mahasiswa magister, dan disertasi doktor yang siap pakai adalah masalah baru dan semakin mengkhawatirkan,” kata artikel yang dimuat di jurnal elektronik Digithum.
Mengapa menyontek semakin mewabah? Bahkan ada yang mengatakan menyontek itu sebuah budaya.
Pertama, pengikisan etika.  ”Banyak pendidik mengatakan bahwa menyontek semakin merajalela akibat pengikisan etika dalam kebudayaan yang mementingkan diri sendiri,” kata American School Board Journal. Mengenai kelas anak-anak berprestasi, salah seorang siswinya mengaku, ”Kami semua menyontek karena kami butuh nilai bagus supaya diterima di sekolah yang bermutu. Kami murid yang baik dan bermoral, kami bukannya tidak beretika. Kami ingin masuk ke universitas bergengsi.” Beberapa orang tua pun telah ”terjangkit” wabah ini. Karena ingin sekali melihat anak-anaknya ”sukses”, mereka menyetujui atau menutup mata sewaktu anak-anaknya menyontek, sehingga etika anak-anak mereka semakin terkikis.Ya bagaimana tidak? Orang tuanya saja menyetujui.
Kedua, tekanan untuk sukses. Menurut Donald McCabe, pendiri Pusat Integritas Akademis Internasional, murid-murid yang menyontek percaya bahwa lebih baik menyontek dan tidak ketahuan daripada bersikap jujur.
Ketiga, adanya bantuan teknologi. Teknologi modern mempermudah murid-murid menyontek dengan cara yang canggih. Mereka bisa mengunduh karangan ilmiah dan jawaban PR dari Internet dan membagikannya untuk murid lain. Sering kali, hanya sedikit yang ketahuan, sehingga yang lain berani melakukannya.
Keempat, pengaruh dari contoh buruk. Kecurangan sudah jamak di dunia orang dewasa—dalam perusahaan besar, politik, olahraga, bahkan di rumah, sewaktu orang tua mencurangi pajak penghasilan atau klaim asuransi. ”Kalau seseorang yang berwenang atau menjadi anutan bertindak curang,” kata David Callahan, penulis The Cheating Culture, ”saya rasa itu membuat anak muda berpikir bahwa menyontek sah-sah saja.” Benarkah demikian? Apakah menyontek demi nilai bagus bisa dibenarkan?
Dari sekian banyaknya alasan untuk menyontek, sekarang mari kita bahas alasan mengapa kita harus memerangi kegiatan menyontek.
Pikirkanlah, “Apa tujuan pendidikan yang baik” Bukankah untuk memperlengkapi para pelajar menghadapi banyak tanggung jawab dalam kehidupan, misalnya menganalisa dan mengatasi masalah di tempat kerja? Murid-murid yang suka menyontek bisa jadi tidak mendapatkan keterampilan berharga tersebut. Jadi, orang yang terbiasa berbuat curang menutupi kelemahan mereka dan mengurangi kesempatan untuk sukses dalam banyak bidang kehidupan.
Yang lebih penting, ”orang yang sejak awal terbiasa mencari jalan pintas dalam kehidupan—misalnya sering menyontek di sekolah—akan begitu juga saat ia bekerja kelak”, kata Callahan. Boleh dikata, orang-orang semacam itu mirip pakaian atau arloji bermerek tetapi palsu—terlihat asli namun ujung-ujungnya mengecewakan.
Para penyontek juga berisiko ketahuan dan menderita konsekuensinya. Setidaknya, mereka mungkin merasa risih, gelisah, dan malu. Tetapi, mereka juga bisa dikeluarkan dari sekolah atau bahkan mendapat sanksi yang lebih berat. Ada peribahasa yang mengatakan “apa yang kamu tuai, itulah yang kamu tabur”.  Namun, sebaiknya rasa takut ketahuan tidak dijadikan alasan utama untuk bersikap jujur. Ada alasan-alasan yang jauh lebih luhur.
Pelajar yang bijak berupaya mengembangkan sifat-sifat yang berguna bagi mereka, bukan hanya untuk sukses di sekolah tetapi juga dalam kehidupan mereka. Karena itu, mereka bekerja keras di sekolah dan berupaya mengembangkan norma-norma yang meningkatkan harga diri, yang akan dihargai oleh calon atasan mereka, dan akan menghasilkan kebahagiaan yang bertahan lama.
Jadi, masih berpikir untuk menyontek? J
>

Tidak ada komentar: