Annyeonghaseyo, mianheyo, saranghae. Pasti kita tidak asing lagi mendengar
kata-kata tersebut, salam, ucapan maaf, dan ungkapan kasih sayang dalam bahasa
Korea. Korea merupakan salah satu negara yang penyanyi dan pemain filmnya
digilai remaja pada zaman sekarang. Hal ini menyebabkan menjamurnya
remaja-remaja yang lebih tertarik mendalami bahasa Korea dibanding dengan
bahasa bangsanya sendiri.
Indonesia dikenal sebagai negara
yang kaya akan budaya. Salah satu masalah besar yang dihadapi Indonesia adalah
semakin banyaknya penerus bangsa yang mengabaikan dan meremehkan budaya
bangsanya sendiri, padahal harapan bangsa Indonesia ada di tangan
penerus-penerus bangsa tersebut. Bagaimana Indonesia, negara yang kaya akan
budaya, menjadi bangsa yang besar jika bangsanya tidak menghargai budaya
negaranya sendiri?
Ketika Malaysia mengklaim Reog
sebagai budaya mereka, barulah para remaja berkoar-koar di dunia maya tentang
betapa mereka bangga dan tidak akan membiarkan begitu saja budaya Indonesia
diklaim. Jadi, apakah penghargaan dan kebanggan terhadap budaya Indonesia hanya
ketika budaya kita diklaim saja?
Banyak sekali upaya-upaya yang harus
kita lakukan untuk membuat bangsa Indonesia semakin mencintai budayanya.
Pertama, memasukkan setidaknya kesenian Indonesia ke dalam kurikulum. Dengan
begini, mau tidak mau, remaja-remaja akan mempelajari sekurang-kurangnya satu
budaya Indonesia. Kedua, mengadakan perlombaan budaya daerah. Semangat para
siswa akan bangkit untuk belajar budaya Indonesia, walaupun dengan iming-iming
mendapat hadiah jika menjadi juara. The
last but not least, menerapkan budaya Indonesia dalam keluarga. Keluarga
adalah lingkup paling sempit dan yang paling dekat dengan setiap pribadi siswa.
Dengan begini, siswa akan semakin mencintai budaya Indonesia, bukan karena
terpaksa, tetapi karena sadar pelestarian budaya adalah tanggung jawabnya.
Kalau bukan kita, siapa lagi yang mencintai budaya Indonesia?
>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar