Rabu, 04 Juni 2014

Lestarilah Budayaku



Annyeonghaseyo, mianheyo, saranghae. Pasti kita tidak asing lagi mendengar kata-kata tersebut, salam, ucapan maaf, dan ungkapan kasih sayang dalam bahasa Korea. Korea merupakan salah satu negara yang penyanyi dan pemain filmnya digilai remaja pada zaman sekarang. Hal ini menyebabkan menjamurnya remaja-remaja yang lebih tertarik mendalami bahasa Korea dibanding dengan bahasa bangsanya sendiri.
            Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya. Salah satu masalah besar yang dihadapi Indonesia adalah semakin banyaknya penerus bangsa yang mengabaikan dan meremehkan budaya bangsanya sendiri, padahal harapan bangsa Indonesia ada di tangan penerus-penerus bangsa tersebut. Bagaimana Indonesia, negara yang kaya akan budaya, menjadi bangsa yang besar jika bangsanya tidak menghargai budaya negaranya sendiri?
            Ketika Malaysia mengklaim Reog sebagai budaya mereka, barulah para remaja berkoar-koar di dunia maya tentang betapa mereka bangga dan tidak akan membiarkan begitu saja budaya Indonesia diklaim. Jadi, apakah penghargaan dan kebanggan terhadap budaya Indonesia hanya ketika budaya kita diklaim saja?
            Banyak sekali upaya-upaya yang harus kita lakukan untuk membuat bangsa Indonesia semakin mencintai budayanya. Pertama, memasukkan setidaknya kesenian Indonesia ke dalam kurikulum. Dengan begini, mau tidak mau, remaja-remaja akan mempelajari sekurang-kurangnya satu budaya Indonesia. Kedua, mengadakan perlombaan budaya daerah. Semangat para siswa akan bangkit untuk belajar budaya Indonesia, walaupun dengan iming-iming mendapat hadiah jika menjadi juara. The last but not least, menerapkan budaya Indonesia dalam keluarga. Keluarga adalah lingkup paling sempit dan yang paling dekat dengan setiap pribadi siswa. Dengan begini, siswa akan semakin mencintai budaya Indonesia, bukan karena terpaksa, tetapi karena sadar pelestarian budaya adalah tanggung jawabnya. Kalau bukan kita, siapa lagi yang mencintai budaya Indonesia?
>

Tidak ada komentar: