Rabu, 04 Juni 2014

Dibawa ke Mana?



 “If you lose your wealth, you lose nothing. If you lose your health, you lose something. But if you lose your character, you lose everything.”
Berapa pun besar bantuan luar negeri dikucurkan, berapa pun utang luar negeri diperoleh, berapa pun tenaga ahli dikirimkan, akan sia-sia kalau bangsa Indonesia gagal melakukan “character and nation building”. Yang ada setelah enam puluh delapan tahun merdeka, utang semakin menumpuk, korupsi semakin merajalela, pejabat bisa dibeli, rasa persatuan sebagai bangsa mulai luntur, kekerasan antarsuku dan antaragama menjamur.
Di Indonesia pemudaran karakter sudah menjadi hal yang umum. Dengan semboyan hidupku untuk kepentinganku dalam pekerjaan dan tindakan sehari-hari. Pejabat negara sering kali memanfaatkan hal itu untuk memperkaya diri dengan cara korupsi. Kemungkinan orang-orang yang memiliki karakter buruk dikarenakan kurangnya pendidikan karakter saat usia dini, lingkungan sosial yang mendukung degradasi karakter dari remaja hingga dewasa, kurangnnya pendekatan diri terhadap Tuhan.
Pendidikan karakter sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah, melainkan di rumah serta di lingkungan sosial. Bahkan peserta pendidikan karakter tidak hanya usia dini hingga remaja, orang dewasa pun  perlu untuk kelangsungan hidup bangsa.
Persaingan di masa depan menuntut kita sebagai penerus bangsa memiliki karakter yang baik. Dengan karakter yang baik dalam dunia kerja kita akan mendapatkan banyak peluang. Pandangan secara umum pemecatan tenaga kerja diakibatkan oleh pekerja yang buruk  seperti tidak bertanggungjawab, tidak jujur, dan lain-lain. Dengan kata lain, karakter individu yang buruk.
            Bukan hanya orang-orang dengan jabatan tinggi saja yang harus memiliki karakter, tetapi masyarakat biasa pun juga harus memiliki karakter. Dengan begini, apabila semua lapisan bangsa memiliki karakter yang baik, soft skills (kemampuan sosial) dan hard skills (kemampuan akademik) akan baik juga. Perbaikan karakter inilah yang akan menjadi jembatan penyelesaian masalah terbesar bangsa Indonesia, yaitu kemiskinan dan kesenjangan sosial.
            Kembali ke kutipan di awal, jika anda kehilangan harta anda, anda tidak kehilangan apa-apa. Jika anda kehilangan kesehatan anda, anda kehilangan sesuatu. Tetapi jika anda kehilangan karakter anda, maka anda kehilangan segalanya.
            Mau kemana karakter bangsa ini dibawa? Setiap orang punya jawabannya masing-masing.
>

Tidak ada komentar: