Bayangkan
jika di dunia ini tidak ada hukum! Menurut aturan, kendaraan melaju di jalur
kiri pada jalan dua arah. Jika ada yang melanggar, apa yang akan terjadi?
Sekarang,
coba cari contoh-contoh aturan yang dianggap sepele, namun amat penting
peranannya! Kemudian carilah solusi agar aturan tersebut dapat ditegakkan
sehingga tidak lagi dianggap sepele! (min. 5)
Dunia tanpa hukum akan sangat kacau.
Semuanya menjadi tidak tertib dan ketika kita menjalankan aktivitaspun akan
terasa tidak nyaman. Pelanggaran terhadap hukum juga akan menimbulkan kekacauan
yang sama. Misalnya, yang telah disebutkan di atas. Jika ada yang melanggar
aturan kendaraan melaju di jalur kiri pada jalan dua arah, maka besar
kemungkinan akan terjadi kecelakaan, ditambah lagi kemungkinan hilangnya nyawa.
Banyak sekali aturan yang
disepelekan oleh masyarakat, terutama masyarakat Indonesia, yang “katanya”
Negara Hukum. Kebanyakan aturan tersebut adalah aturan yang tidak ada bentuk
fisiknya, alias aturan tidak tertulis. Berikut adalah paparan mengenai
contoh-contohnya.
Pertama, aturan “mengetuk pintu
sebelum masuk”. Ketika kita tidak mengetuk pintu sebelum masuk ke sebuah
ruangan, pernahkah kita berpikir bahwa orang yang ada di dalam ruangan tersebut
sedang melakukan hal yang bersifat privasi? Misalnya, ketika guru membuat soal
ulangan. Ada saja guru yang ingin cepat menyelesaikan soal yang dibuatnya
sehingga lupa mengunci pintu. Lalu ada seorang anak yang tidak mengetuk pintu
saat masuk dan guru tersebut tidak sadar ada murid yang masuk. Kemungkinan
terbesar yang akan terjadi adalah bocornya soal ulangan tersebut. Jadi, bias
kita lihat sendiri, kan, seberapa pentingnya mengetuk pintu sebelum masuk?
Kedua, “menyeberang jalan di zebra cross”. Banyak sekali masyarakat
kita yang berpikir bahwa tidak ada bedanya menyeberang di zebra cross dan tidak. Penyebab munculnya paradigma ini adalah
dangkalnya wawasan mengenai kegunaan zebra
cross. Menggunakan zebra cross
akan sangat bermanfaat jika terjadi kecelakaan karena diasuransikan. Setidaknya
beban biaya kita akan berkurang jika tertabrak di zebra cross. Selain itu, menyeberang di zebra cross akan memperkecil kemungkinan kecelakaan dan
meminimalisir kemacetan.
Ketiga, “tidak boleh
menyontek/bekerja sama saat ulangan”. Banyak siswa yang tidak sadar bahwa
menyontek hanya akan menimbulkan efek jangka pendek dan bukan jangka panjang.
Memang hari ini mendapat nilai yang bagus. Kalau ditanya seminggu kemudian,
masih hapalkah? Jangankan seminggu, sehari saja belum tentu.
Keempat, “etika berbicara terhadap
orang yang lebih tua”. Ketika kita berbicara, kepada siapapun itu, baik yang
lebih tua, yang lebih muda, maupun yang sebaya dengan kita, kita harus
memperhatikan gaya berbicara. Harus mempertimbangkan sikap seperti apakah yang
akan kita lakukan. Jangan sampai ketika berbicara dengan orang yang lebih tua
kita nyolot dan kurang sopan.
Kelima, “dilarang bertempat
tinggal/bermukim di sembarang tempat”. Ada efek positif dan negatif dari
bertambahnya penduduk, terutama bagi lingkungan masyarakat di tengah kota. Para
penata kota lebih sering mendapatkan efek negatifnya, dan yang paling disorot
adalah masalah pemukiman kumuh atau slum
area. Banyak masalah yang dapat ditimbulkan dari permukiman kumuh ini.
Daerah pemukiman kumuh ini sering menjadi sumber perilaku menyimpang, seperti
kejahatan dan kriminalitas, sumber penyakit fisik maupun sosial, ketidakrataan
pembangunan yang akan menyebabkan kesejahteraan yang tidak seimbang pula, dan
ketidakpuasan di bidang sosial dan ekonomi.
Banyak sekali hal-hal yang dapat
kita lakukan untuk meningkatkan ketegakkan peraturan-peraturan di atas.
1. Memulainya dari kesadaran diri sendiri
2. Membiasakan di keluarga
3. Saling mengingatkan satu sama lain
4. Memperbanyak penyuluhan atau sosialisasi
5. Meningkatkan kepedulian terhadap hal-hal kecil
6. Menambah pengawasan
7. Memberikan sanksi yang lebih tegas dan nyata
8. Memperluas wawasan
>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar