Rabu, 04 Juni 2014

Perbedaan Bukan Alasan



SMA Negeri 10 Samarinda adalah salah satu sekolah favorit yang bergengsi di Kalimantan Timur. Sekolah yang juga terkenal karena sering memenangkan berbagai perlombaan dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, bahkan nasional. Tak mengherankan jika sekolah unggulan ini menjadi teladan bagi sekolah-sekolah lain. Tetapi, dibalik semua kesuksesan sekolah ini, ternyata masih ada masalah-masalah yang mewarnai kehidupan siswa-siswinya.
            Sejak tahun ajaran 2013/2014, SMAN 10 telah melepaskan nama “Melati”nya karena sejak tahun ini, manajemen sekolah telah berpisah dari Yayasan Melati. Akibatnya, beberapa peraturan sekolah diubah. Salah satu yang paling menonjol adalah tidak adanya lagi kewajiban berasrama bagi siswa-siswi SMAN 10. Hal ini bukan berarti tidak ada lagi sekolah berasrama. Sekolah memberikan pilihan kepada siswa-siswinya untuk berasrama atau tinggal di rumah (homestay).
            Masing-masing pilihan mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Jika berasrama; informasi dari sekolah akan cepat diketahui, kegiatan-kegiatan organisasi dan ekstrakulikuler bisa dengan mudah diikuti karena jarak dari sekolah ke asrama relatif dekat, terbangunnya rasa persaudaraan yang kuat antar teman, tetapi waktu istirahat dan belajar tidak banyak.
            Jika homestay, waktu istirahat dan belajar akan semakin banyak, keteraturan kegiatan dalam pengawasan orang tua, tetapi kurang interaksi dalam pergaulan, lambatnya penerimaan informasi sekolah, dan susah untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang biasanya diadakan sore sampai malam hari.
Perbedaan inilah yang dijadikan alasan beberapa senior dan teman seangkatan untuk melakukan tindakan bullying. Orang-orang tersebut melakukan tindakan yang bisa disebut sebagai diskriminasi karena mengucilkan siswa-siswi yang homestay dengan cara menyebarkan hal-hal yang tidak baik dan tidak sesuai kenyataan yang ada. Hal ini membuat orang yang mengucilkan siswa-siswi homestay semakin banyak.
Parahnya, sekolah menjadikan siswa-siswi homestay menjadi satu kelas, dengan alasan jika ada kerja kelompok, pengerjaannya akan lebih mudah. Tindakan sekolah memang benar. Tetapi saya rasa, siswa-siswi SMAN 10 sudah cukup dewasa untuk mengatasi hal-hal kecil seperti itu.
Seharusnya sekolah membaurkan siswa-siswi homestay, termasuk saya, dengan siswa-siswi yang berasrama. Saya yakin dampaknya positif, tetapi tidak instan, melalui proses. Yang pertama, siswa-siswi yang berasrama dan homestay dapat saling bertukar informasi sehingga wawasan semua siswa-siswi semakin luas. Yang kedua, semakin eratnya hubungan antar siswa. Memang pada awalnya ada yang tidak bisa menerima, tetapi seiring berjalannya waktu, pasti akan terbiasa dengan adanya perbedaan itu. Yang ketiga, sekolah harus sering mengadakan kegiatan yang melibatkan kekompakan antar angkatan, sehingga bukan hanya hubungan antar teman sebaya yang terjaga, tetapi juga antara senior dan junior, bahkan guru.
Dengan begitu, perbedaan yang ada jangan dijadikan alasan untuk memecah-belah hubungan pertemanan yang sudah terjalin.

>

Tidak ada komentar: