SMA Negeri 10 Samarinda adalah salah
satu sekolah favorit yang bergengsi di Kalimantan Timur. Sekolah yang juga
terkenal karena sering memenangkan berbagai perlombaan dari tingkat kabupaten/kota,
provinsi, bahkan nasional. Tak mengherankan jika sekolah unggulan ini menjadi
teladan bagi sekolah-sekolah lain. Tetapi, dibalik semua kesuksesan sekolah
ini, ternyata masih ada masalah-masalah yang mewarnai kehidupan siswa-siswinya.
Sejak
tahun ajaran 2013/2014, SMAN 10 telah melepaskan nama “Melati”nya karena sejak
tahun ini, manajemen sekolah telah berpisah dari Yayasan Melati. Akibatnya,
beberapa peraturan sekolah diubah. Salah satu yang paling menonjol adalah tidak
adanya lagi kewajiban berasrama bagi siswa-siswi SMAN 10. Hal ini bukan berarti
tidak ada lagi sekolah berasrama. Sekolah memberikan pilihan kepada
siswa-siswinya untuk berasrama atau tinggal di rumah (homestay).
Masing-masing
pilihan mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Jika berasrama;
informasi dari sekolah akan cepat diketahui, kegiatan-kegiatan organisasi dan
ekstrakulikuler bisa dengan mudah diikuti karena jarak dari sekolah ke asrama
relatif dekat, terbangunnya rasa persaudaraan yang kuat antar teman, tetapi
waktu istirahat dan belajar tidak banyak.
Jika
homestay, waktu istirahat dan belajar
akan semakin banyak, keteraturan kegiatan dalam pengawasan orang tua, tetapi
kurang interaksi dalam pergaulan, lambatnya penerimaan informasi sekolah, dan
susah untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang biasanya diadakan sore sampai
malam hari.
Perbedaan inilah yang
dijadikan alasan beberapa senior dan teman seangkatan untuk melakukan tindakan bullying. Orang-orang tersebut melakukan
tindakan yang bisa disebut sebagai diskriminasi karena mengucilkan siswa-siswi
yang homestay dengan cara menyebarkan
hal-hal yang tidak baik dan tidak sesuai kenyataan yang ada. Hal ini membuat
orang yang mengucilkan siswa-siswi homestay
semakin banyak.
Parahnya, sekolah
menjadikan siswa-siswi homestay
menjadi satu kelas, dengan alasan jika ada kerja kelompok, pengerjaannya akan
lebih mudah. Tindakan sekolah memang benar. Tetapi saya rasa, siswa-siswi SMAN
10 sudah cukup dewasa untuk mengatasi hal-hal kecil seperti itu.
Seharusnya sekolah membaurkan
siswa-siswi homestay, termasuk saya,
dengan siswa-siswi yang berasrama. Saya yakin dampaknya positif, tetapi tidak
instan, melalui proses. Yang pertama, siswa-siswi yang
berasrama dan homestay dapat saling
bertukar informasi sehingga wawasan semua siswa-siswi semakin luas. Yang kedua,
semakin eratnya hubungan antar siswa. Memang pada awalnya ada yang tidak bisa
menerima, tetapi seiring berjalannya waktu, pasti akan terbiasa dengan adanya
perbedaan itu. Yang ketiga, sekolah harus sering mengadakan kegiatan yang
melibatkan kekompakan antar angkatan, sehingga bukan hanya hubungan antar teman
sebaya yang terjaga, tetapi juga antara senior dan junior, bahkan guru.
Dengan begitu,
perbedaan yang ada jangan dijadikan alasan untuk memecah-belah hubungan pertemanan
yang sudah terjalin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar