Sabtu, 02 Agustus 2014

Kurikulum 2013: Pantaskah Diterapkan?

Menteri Pendidikan, M. Nuh, merombak habis-habisan kurikulum sekolah mulai tahun ajaran 2013/2014. Perubahan ini meliputi SD, SMP, SMA, SMK, sampai ke universitas. Dalam perencanaannya saja, sudah banyak pihak yang tidak setuju, walaupun sudah dipersiapkan dengan matang. Banyak juga pihak yang menganggap perombakan ini terburu-buru, tetapi sepertinya M. Nuh tetap keukuh dengan rencananya.

Penarapan kurikulum yang disebut sebagai Kurikulum 2013 ini akan dilakukan untuk kelas 1 dan 4 SD, kelas 1 SMP, dan kelas 1 SMA/SMK. Karena saya secara langung mengalami penerapan kurikulum ini, saya akan membahas berikut dengan sistem pendidikan Indonesia yang kata Pak Menteri sendiri, berbeda dengan negara-negara lain.

Di negara lain, SMA sudah tidak memakai penjurusan MIPA dan IPS lagi, tetapi memilih sendiri mata pelajaran yang disukai dengan ketentuan dari sekolah. Penjurusan MIPA dan IPS seperti itu tidak efektif. Tidak semua siswa jurusan MIPA menyukai empat mata pelajaran ini sekaligus: Matematika, Fisika, Biologi, Kimia. Tidak semua siswa jurusan IPS juga menyukai Sejarah, Sosiologi, Geografi, dan Ekonomi sekaligus. Ini kebijakan yang sangat bagus. Terima kasih Pak Menteri.

Grafik tentang jumlah jam pelajaran anak usia 7-14 tahun di beberapa negara dunia menunjukkan Indonesia butuh peningkatan 15% jam belajar agar setara dengan rata-rata dunia. Ya, kita masih dibawah rata-rata.

Menurut Kementrian, kurikulum 2006 yang sebelumnya berlaku masih banyak kekurangannya. Terlalu padat karena kebanyakan mata pelajaran, belum sepenuhnya berbasis dengan tujuan pendidikan kita. Kurikulum ini juga nggak mengutamakan kualitas sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Mereka juga berpendapat kalau kurikulum ini terlalu rigid, kaku. Dan detail di kurikulum 2006 ini tidak terlalu jelas, jadi ada banyak tindakan multitafsir; para guru menerapkan kurikulum ini sesuai pandangan mereka masing-masing yang pastinya berbeda satu sama lain.

Menutupi kekurangan itu, dibuatlah kurikulum 2013 dengan kelebihan yang diharapkan bisa menambal kekurangan kurikulum 2006. Mendetailkan tujuan dan mengurangi mata pelajaran. Potong mata pelajaran? Ya, banyak sekali mata pelajaran yang akan dipotong.

Di SD, TIK dan Bahasa Inggris dihapus. Katanya muatan lokal juga. Selain itu, pelajaran IPA-IPS  juga dikurangi. Kementrian masih labil antara memulai pelajaran IPA-IPS di kelas 4 atau kelas 5. Jadi anak SD akan belajar IPA-IPS hanya 3 atau 2 tahun. Sepanjang tidak punya mata pelajaran IPA-IPS, guru bisa memasukkan materi-materi pengetahuan umum itu lewat pelajaran-pelajaran lain seperti Bahasa Indonesia, PKN, dan lainnya. Meski begitu, jam belajar siswa SD yang biasa ditambah 6 jam.

Di SMP,  hanya TIK yang dihapus, tapi jam pelajaran ditambah 6 jam. Beberapa mata pelajaran yang tadinya cuma 2 jam per minggu akan dipelajari 3 jam per minggu, seperti PKN, Penjas, dan beberapa pelajaran lain.

Nah, kalau SMA, rencananya penjurusan bakalan dihapus. Dari 72 jam pelajaran yang tersedia, jam pelajaran wajib cuma 40 jam. Selain itu, UN di SMA dan SMK juga diusulkan dilaksanakan pada kelas 2, biar di kelas 3 nanti para siswa fokus ke SNMPTN (untuk siswa SMA) dan fokus ke sertifikasi keahlian (untuk siswa SMK).

Dalam penyiapan buku, pemerintah katanya akan menyediakan tiga jenis buku; buku siswa, buku panduan guru, dan dokumen kurikulum. Selain itu, dibahas juga soal pembelajaran di perguruan tinggi. Sebenarnya dulu ada di website Kementriannya sendiri, dalam bagian uji coba kurikulum. Di sana siapapun bisa download materi pdf-nya dan nulis komentar di situ. Tapi sayang sekali, Januari kemarin uji cobanya sudah ditutup.

Yang saya alami sepertinya tidak sama dengan apa yang direncanakan Pak M. Nuh. SMA katanya tidak ada penjurusan? Nyatanya, cuma katanya. Mau menyediakan tiga buku sekaligus? Satu untuk setiap mata pelajaran saja tidak ada. Di sekolah saya, (yang notabene adalah sekolah unggulan Kal-Tim) hanya mata pelajaran Sejarah Indonesia dan Bahasa Indonesia saja yang bukunya dari pemerintah. Entah memang tidak ada pendistribusiannya atau, ya tahu sendiri, lah. TIK dihapus? Katanya mau jadi bangsa yang maju dalam hal teknologi, pembelajaran teknologi kok dihapus? Katanya kurikulum baru siswa harus cari bahan ajar sendiri. Katanya mau menyiapkan guru master untuk pembelajaran. Katanya kurikulum baru banyak lebihnya. Katanya kurikulum baru akan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Katanya kurikulum baru akan mengubah nasib bangsa. Katanya.

Teman-teman saya di pelosok sana apa sudah punya fasilitas yang layak? Jangankan yang di pelosok, di kota saja masih kurang memadai. Jangankan fasilitas, guru saja minim jumlahnya. UN kelas dua, Pak? Supaya kami bisa fokus ke SNMPTN? Apa manfaatnya? Kurikulum sebelumnya juga bisa, kan tanpa setahun untuk fokus di SNMPTN? Terlalu pesimis kah Bapak akan kemampuan kami? SNMPTN bukan parameter kesuksesan, Pak.

Kurikulum 2006 terlalu kaku. Kurikulum 2013 membuat kami seperti robot. Masih pantaskah kurikulum 2013 diterapkan? Mari kita pikir lagi.

>

Tidak ada komentar: