Minggu, 03 Agustus 2014

Pelajaran dari Liburan (Laporan Kegiatan)

            Liburan ini saya pergi ke dua kota berbeda. Saya mungkin salah satu dari sekian orang yang beruntung tidak liburan di rumah saja. Pelajaran satu. Kenapa pelajaran satu? Karena di liburan kali ini saya mendapatkan banyak sekali pelajaran hidup.
            Kota Bandung adalah kota pertama yang lebih dulu saya tuju. Katanya, Kota Bandung adalah kota dengan sejuta cerita. Setiap orang pasti punya cerita di Kota Kembang ini. Awalnya, saya tidak setuju dengan pendapat ini, mungkin karena saya belum pernah menginjakkan kaki di kota ini dan ini adalah kali pertama.
            Tujuan utama saya datang ke kota yang satu ini adalah untuk menghadiri pernikahan adik dari ayah saya yang diadakan pada tanggal 21 Juni 2014. Saya sekeluarga berangkat dengan pesawat 18 Juni malam. Kami tidak langsung pergi ke Bandung, kami singgah di Jakarta karena ayah saya harus menyelesaikan pekerjaannya di sana. 19 Juni sore barulah kami berkendara menuju Bandung.
            Sampai di Bandung, hari sudah malam. Bermalamlah kami di sebuah hotel di Jalan Soekarno-Hatta. Perjalanan yang melelahkan.
            Esok harinya, kami melakukan gladi resik untuk acara pemberkatan pernikahan paman yang dilaksanakan di Gereja HKBP Reformanda. Saya dan adik perempuan saya mendapat kehormatan untuk mengiringi pengantin berjalan menuju altar dengan permainan piano lagu Amazing Grace.
            Setelah gladi resik dirasa cukup, kami berkumpul di rumah saudara saya untuk membicarakan tugas masing-masing anggota keluarga di dalam pesta adat yang dilaksanakan setelah acara pemberkatan. Dalam adat Batak, banyak sekali peran-peran yang harus dilakoni masing-masing anggota keluarga, terutama laki-laki. Saya mendapat tugas menjadi seksi dokumentasi. Memang kami menyewa tim photographer, tetapi tradisi kami, kurang lengkap rasanya kalau tidak punya dokumentasi sendiri.
            Esok harinya, hari yang ditunggu-tunggu tiba. Rangkaian acara berjalan dengan lancar, sesuai harapan. Inilah salah satu foto yang saya ambil ketika menjalankan tugas saya sebagai seksi dokumentasi di dalam pesta adat.
            Awalnya saya tidak mengira undangan yang datang akan sebanyak ini karena setahu saya yang akan datang hanya keluarga Harianja (nama keluarga saya). Tetapi ternyata, semua marga yang ada hubungannya dengan marga Harianja, ditambah teman-teman dari pengantin.
            Pesta adat ini berlangsung hingga malam hari. Usai acara selesai, semua anggota keluarga kembali berkumpul untuk mereview acara hari itu. Semuanya merasa senang dan bangga atas berhasilnya pesta adat itu.
            Dari rumah tempat berkumpul tersebut, kami akhirnya pulang ke hotel untuk beristirahat. Tetapi siapa sangka, saat perjalanan tersebut ibu saya mendapat kabar bahwa nenek saya dari ibu dalam keadaan koma. Pelajaran kedua, kebahagiaan yang datang akan selalu diikuti dengan datangnya kesedihan.
            Sampai di hotel, kami mendapat kabar lagi bahwa nenek sudah dibawa ke rumah sakit dan keaadaannya sudah lebih baik. Puji Tuhan.
            Esoknya, dengan perasaan yang sudah lebih tenang, kami memulai perjalanan wisata kami. Kami mulai dengan Tangkuban Perahu, dilanjutkan dengan Kampung Gajah. Kemudian besoknya (tanggal 23), kami mampir sebentar ke Cheap Outlet untuk membeli beberapa keperluan lalu mengunjungi beberapa saudara kami yang ada di Bandung dan Cimahi.
            Tanggal 24, seharian kami mengunjungi museum-museum. Mulai dari Museum Geologi, Museum Pos Indonesia, dan Museum Konfrensi Asia-Afrika. Kami tidak mengeluarkan sepeser uangpun untuk tiket masuk. Untuk Museum Geologi, harusnya kami membayar Rp. 17.000,-, tetapi karena kami mempunyai saudara yang jabatannya cukup tinggi di sana, jadi kami masuk dengan gratis. Bukan nepotisme, kalau kami ditawari gratis, sementara ada yang bayar, siapa yang tidak mau? Pelajaran tiga, orang-orang Indonesia sudah terbiasa akan adanya nepotisme.
            Next day, kami pergi ke Observatorium Bosscha. Kalau pernah menonton film “Petualangan Sherina”, pasti tahu tempat ini. Untuk mengunjungi tempat ini, kita harus reservasi terlebih dahulu. Saya tidak tahu pasti sebabnya mengapa. Saya belajar banyak tentang luar angkasa, yang ternyata sangat menyenangkan untuk di pelajari. Untuk yang penasaran, inilah tempatnya.
             Kalau pergi ke luar kota, kurang lengkap rasanya kalau tidak membeli buah tangan. Apalagi orang Kalimantan yang apa-apa serba mahal berkunjung ke Jawa yang jauh lebih murah. Kami menghabiskan waktu seharian berkeliling tempat belanja favorit di ibukota provinsi Jawa Barat ini.
            Selanjutnya, kami pergi ke tempat di mana orang bilang “kalau tidak ke situ, bukan ke Bandung namanya”. Ya, Trans Studio! Trans Studio merupakan salah satu wahana indoor terbesar se-Asia Tenggara. Di sini tentunya kurang afdol kalau tidak menghabiskan waktu seharian untuk bermain. Melelahkan memang, tetapi sangat seru.
            Tanggal 28 dini hari, kami berangkat ke Jakarta. Pesawat kami tanggal 29 memang, tetapi orang tua saya ingin ke PRJ (Pekan Raya Jakarta). Katanya, di sana harga barang elektronik seperti kamera, handphone, dan notebook sangat murah. Sampai di Jakarta, kami langsung menuju PRJ yang dikenal juga dengan Jakarta Fair. Biaya tiket masuk kisaran Rp. 20.000,- sampai Rp. 40.000,-, tergantung hari apa kita mengunjunginya. Ternyata harga barang-barang di sana memang sangat murah. Saya dibelikan lensa kamera baru oleh Ayah karena kata beliau IP saya bagus. Terima kasih, Ayah.
            Setelah puas menjelajah PRJ, kami pergi ke hotel untuk beristirahat karena esoknya kami akan terbang kembali ke Samarinda. Ya, itulah akhir perjalanan saya di Bandung. Sekarang saya juga  punya cerita di Bandung, seperti kata orang-orang. J
            Tidak sampai seminggu sampai di Samarinda, kami dapat kabar bahwa nenek dari ibu saya kembali kritis. Kata paman saya, nenek saya terus memanggil nama ibu saya. Akhirnya, karena saya masih mempunyai sisa hari libur yang panjang, ikutlah saya ke Medan untuk menjenguk nenek saya. Yang pergi hanya saya dan ibu saya. Tanggal 4 Juli kami berangkat dan sampai di Medan malam.
            Ketika kami sampai, kami langsung masuk ke kamar nenek saya. Kondisinya memang sangat kritis. Tiga hari belakangan beliau tidak mau maupun makan dan minum. Beliau juga menolak untuk di bawa ke rumah sakit. Yang beliau lakukan hanyalah terus memanggil nama ibu saya.
            Malam itu, kami sekeluarga berdoa bersama-sama untuk mengikhlaskan kepergian nenek. Bukan maksud kami ingin beliau cepat-cepat pergi. Tetapi, hati kami sudah sakit sekali melihat beliau menderita. Lebih baik nenek tenang di sana, tanpa penderitaan bersama kakek.
            Borhat ma opung, loja ho opung”, kalimat itu yang saya bisikkan di telingan nenek saya sambil menangis. “Berangkatlah, nek. Nenek sudah lelah” adalah arti kalimat tersebut. Masing-masing anggota keluarga  membisikkan kalimat keikhlasan kepergian nenek.
            Malam itu, anggota keluarga yang laki-laki tidur di sekitar kamar nenek, sedangkan yang perempuan, termasuk saya dan ibu saya, tidur di kamar tamu.
            Dini hari, sekitar pukul 02.30, kami mendengar suara tangisan perempuan dari luar kamar kami. Tetapi kami menganggap itu hanyalah ilusi belaka karena kami kelelahan sehabis menempuh perjalanan.
            5 Juli, pukul 05.00 kami bangun, mendapati nenek sudah pergi dengan damai. Tangis kami pecah saat itu juga, melihat sosok yang kami cintai sudah tidak bernyawa. Ada sedikit kelegaan karena akhirnya beliau tidak lagi harus menanggung sakit di dunia. Pelajaran ke empat, terkadang kita harus mengikhlaskan atau merelakan hal yang kita ingin selalu ada, untuk sesuatu yang lebih baik. Selamat jalan, nek. 
             Sebagai suku Batak, adat harus segera dilaksanakan. Semua berjalan lancar hingga saat nenek dikebumikan. Kami satu persatu memasukkan segenggam tanah ke dalam liang lahat nenek di kampung halamannya, tradisi kami orang Batak agar diberkati oleh leluhur. Setelah makam nenek di tutup, kami mencuci muka kami sebanyak tiga kali dengan air di atas makam nenek, agar wajah kami selalu diingat oleh orang yang meninggalkan kami. Adatnya memang seperti itu.
 Sehabis mencuci muka, kami, cucu-cucu nenek menanam tunas tanaman di tempat peristirahatan nenek tersebut. Kami harus menanamnya dengan baik, karena dalam adat orang Batak jika tanaman tersebut tumbuh subur, hendaklah berkat yang diterima juga semakin banyak. Menanam tunas tersebut harus dengan tangan kosong. Saya menanam di atas bagian kaki, karena saya keturunan dari anak terakhir.
Pelajaran kelima yang saya dapatkan, adat orang Indonesia sangat beragam macamnya. Bukan hanya suku Batak, tetapi setiap suku di Indonesia. Memang kadang ada adat yang tidak sesuai dengan zaman sekarang. Tapi yang kita resapi bukanlah hal-hal yang tidak sesuai tersebut, tetapi nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Pelajaran-pelajaran hidup yang sungguh berarti dalam hidup saya. Belum pernah saya merasakan kebahagiaan dan kesedihan sekaligus. Sekali lagi, selamat berbahagia, paman. Selamat jalan, nenek. Doaku selalu ada untuk kalian.
 



>

Tidak ada komentar: