Minggu, 03 Agustus 2014

Pelajaran dari Liburan (Laporan Kegiatan)

            Liburan ini saya pergi ke dua kota berbeda. Saya mungkin salah satu dari sekian orang yang beruntung tidak liburan di rumah saja. Pelajaran satu. Kenapa pelajaran satu? Karena di liburan kali ini saya mendapatkan banyak sekali pelajaran hidup.
            Kota Bandung adalah kota pertama yang lebih dulu saya tuju. Katanya, Kota Bandung adalah kota dengan sejuta cerita. Setiap orang pasti punya cerita di Kota Kembang ini. Awalnya, saya tidak setuju dengan pendapat ini, mungkin karena saya belum pernah menginjakkan kaki di kota ini dan ini adalah kali pertama.
            Tujuan utama saya datang ke kota yang satu ini adalah untuk menghadiri pernikahan adik dari ayah saya yang diadakan pada tanggal 21 Juni 2014. Saya sekeluarga berangkat dengan pesawat 18 Juni malam. Kami tidak langsung pergi ke Bandung, kami singgah di Jakarta karena ayah saya harus menyelesaikan pekerjaannya di sana. 19 Juni sore barulah kami berkendara menuju Bandung.
            Sampai di Bandung, hari sudah malam. Bermalamlah kami di sebuah hotel di Jalan Soekarno-Hatta. Perjalanan yang melelahkan.
            Esok harinya, kami melakukan gladi resik untuk acara pemberkatan pernikahan paman yang dilaksanakan di Gereja HKBP Reformanda. Saya dan adik perempuan saya mendapat kehormatan untuk mengiringi pengantin berjalan menuju altar dengan permainan piano lagu Amazing Grace.
            Setelah gladi resik dirasa cukup, kami berkumpul di rumah saudara saya untuk membicarakan tugas masing-masing anggota keluarga di dalam pesta adat yang dilaksanakan setelah acara pemberkatan. Dalam adat Batak, banyak sekali peran-peran yang harus dilakoni masing-masing anggota keluarga, terutama laki-laki. Saya mendapat tugas menjadi seksi dokumentasi. Memang kami menyewa tim photographer, tetapi tradisi kami, kurang lengkap rasanya kalau tidak punya dokumentasi sendiri.
            Esok harinya, hari yang ditunggu-tunggu tiba. Rangkaian acara berjalan dengan lancar, sesuai harapan. Inilah salah satu foto yang saya ambil ketika menjalankan tugas saya sebagai seksi dokumentasi di dalam pesta adat.
            Awalnya saya tidak mengira undangan yang datang akan sebanyak ini karena setahu saya yang akan datang hanya keluarga Harianja (nama keluarga saya). Tetapi ternyata, semua marga yang ada hubungannya dengan marga Harianja, ditambah teman-teman dari pengantin.
            Pesta adat ini berlangsung hingga malam hari. Usai acara selesai, semua anggota keluarga kembali berkumpul untuk mereview acara hari itu. Semuanya merasa senang dan bangga atas berhasilnya pesta adat itu.
            Dari rumah tempat berkumpul tersebut, kami akhirnya pulang ke hotel untuk beristirahat. Tetapi siapa sangka, saat perjalanan tersebut ibu saya mendapat kabar bahwa nenek saya dari ibu dalam keadaan koma. Pelajaran kedua, kebahagiaan yang datang akan selalu diikuti dengan datangnya kesedihan.
            Sampai di hotel, kami mendapat kabar lagi bahwa nenek sudah dibawa ke rumah sakit dan keaadaannya sudah lebih baik. Puji Tuhan.
            Esoknya, dengan perasaan yang sudah lebih tenang, kami memulai perjalanan wisata kami. Kami mulai dengan Tangkuban Perahu, dilanjutkan dengan Kampung Gajah. Kemudian besoknya (tanggal 23), kami mampir sebentar ke Cheap Outlet untuk membeli beberapa keperluan lalu mengunjungi beberapa saudara kami yang ada di Bandung dan Cimahi.
            Tanggal 24, seharian kami mengunjungi museum-museum. Mulai dari Museum Geologi, Museum Pos Indonesia, dan Museum Konfrensi Asia-Afrika. Kami tidak mengeluarkan sepeser uangpun untuk tiket masuk. Untuk Museum Geologi, harusnya kami membayar Rp. 17.000,-, tetapi karena kami mempunyai saudara yang jabatannya cukup tinggi di sana, jadi kami masuk dengan gratis. Bukan nepotisme, kalau kami ditawari gratis, sementara ada yang bayar, siapa yang tidak mau? Pelajaran tiga, orang-orang Indonesia sudah terbiasa akan adanya nepotisme.
            Next day, kami pergi ke Observatorium Bosscha. Kalau pernah menonton film “Petualangan Sherina”, pasti tahu tempat ini. Untuk mengunjungi tempat ini, kita harus reservasi terlebih dahulu. Saya tidak tahu pasti sebabnya mengapa. Saya belajar banyak tentang luar angkasa, yang ternyata sangat menyenangkan untuk di pelajari. Untuk yang penasaran, inilah tempatnya.
             Kalau pergi ke luar kota, kurang lengkap rasanya kalau tidak membeli buah tangan. Apalagi orang Kalimantan yang apa-apa serba mahal berkunjung ke Jawa yang jauh lebih murah. Kami menghabiskan waktu seharian berkeliling tempat belanja favorit di ibukota provinsi Jawa Barat ini.
            Selanjutnya, kami pergi ke tempat di mana orang bilang “kalau tidak ke situ, bukan ke Bandung namanya”. Ya, Trans Studio! Trans Studio merupakan salah satu wahana indoor terbesar se-Asia Tenggara. Di sini tentunya kurang afdol kalau tidak menghabiskan waktu seharian untuk bermain. Melelahkan memang, tetapi sangat seru.
            Tanggal 28 dini hari, kami berangkat ke Jakarta. Pesawat kami tanggal 29 memang, tetapi orang tua saya ingin ke PRJ (Pekan Raya Jakarta). Katanya, di sana harga barang elektronik seperti kamera, handphone, dan notebook sangat murah. Sampai di Jakarta, kami langsung menuju PRJ yang dikenal juga dengan Jakarta Fair. Biaya tiket masuk kisaran Rp. 20.000,- sampai Rp. 40.000,-, tergantung hari apa kita mengunjunginya. Ternyata harga barang-barang di sana memang sangat murah. Saya dibelikan lensa kamera baru oleh Ayah karena kata beliau IP saya bagus. Terima kasih, Ayah.
            Setelah puas menjelajah PRJ, kami pergi ke hotel untuk beristirahat karena esoknya kami akan terbang kembali ke Samarinda. Ya, itulah akhir perjalanan saya di Bandung. Sekarang saya juga  punya cerita di Bandung, seperti kata orang-orang. J
            Tidak sampai seminggu sampai di Samarinda, kami dapat kabar bahwa nenek dari ibu saya kembali kritis. Kata paman saya, nenek saya terus memanggil nama ibu saya. Akhirnya, karena saya masih mempunyai sisa hari libur yang panjang, ikutlah saya ke Medan untuk menjenguk nenek saya. Yang pergi hanya saya dan ibu saya. Tanggal 4 Juli kami berangkat dan sampai di Medan malam.
            Ketika kami sampai, kami langsung masuk ke kamar nenek saya. Kondisinya memang sangat kritis. Tiga hari belakangan beliau tidak mau maupun makan dan minum. Beliau juga menolak untuk di bawa ke rumah sakit. Yang beliau lakukan hanyalah terus memanggil nama ibu saya.
            Malam itu, kami sekeluarga berdoa bersama-sama untuk mengikhlaskan kepergian nenek. Bukan maksud kami ingin beliau cepat-cepat pergi. Tetapi, hati kami sudah sakit sekali melihat beliau menderita. Lebih baik nenek tenang di sana, tanpa penderitaan bersama kakek.
            Borhat ma opung, loja ho opung”, kalimat itu yang saya bisikkan di telingan nenek saya sambil menangis. “Berangkatlah, nek. Nenek sudah lelah” adalah arti kalimat tersebut. Masing-masing anggota keluarga  membisikkan kalimat keikhlasan kepergian nenek.
            Malam itu, anggota keluarga yang laki-laki tidur di sekitar kamar nenek, sedangkan yang perempuan, termasuk saya dan ibu saya, tidur di kamar tamu.
            Dini hari, sekitar pukul 02.30, kami mendengar suara tangisan perempuan dari luar kamar kami. Tetapi kami menganggap itu hanyalah ilusi belaka karena kami kelelahan sehabis menempuh perjalanan.
            5 Juli, pukul 05.00 kami bangun, mendapati nenek sudah pergi dengan damai. Tangis kami pecah saat itu juga, melihat sosok yang kami cintai sudah tidak bernyawa. Ada sedikit kelegaan karena akhirnya beliau tidak lagi harus menanggung sakit di dunia. Pelajaran ke empat, terkadang kita harus mengikhlaskan atau merelakan hal yang kita ingin selalu ada, untuk sesuatu yang lebih baik. Selamat jalan, nek. 
             Sebagai suku Batak, adat harus segera dilaksanakan. Semua berjalan lancar hingga saat nenek dikebumikan. Kami satu persatu memasukkan segenggam tanah ke dalam liang lahat nenek di kampung halamannya, tradisi kami orang Batak agar diberkati oleh leluhur. Setelah makam nenek di tutup, kami mencuci muka kami sebanyak tiga kali dengan air di atas makam nenek, agar wajah kami selalu diingat oleh orang yang meninggalkan kami. Adatnya memang seperti itu.
 Sehabis mencuci muka, kami, cucu-cucu nenek menanam tunas tanaman di tempat peristirahatan nenek tersebut. Kami harus menanamnya dengan baik, karena dalam adat orang Batak jika tanaman tersebut tumbuh subur, hendaklah berkat yang diterima juga semakin banyak. Menanam tunas tersebut harus dengan tangan kosong. Saya menanam di atas bagian kaki, karena saya keturunan dari anak terakhir.
Pelajaran kelima yang saya dapatkan, adat orang Indonesia sangat beragam macamnya. Bukan hanya suku Batak, tetapi setiap suku di Indonesia. Memang kadang ada adat yang tidak sesuai dengan zaman sekarang. Tapi yang kita resapi bukanlah hal-hal yang tidak sesuai tersebut, tetapi nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Pelajaran-pelajaran hidup yang sungguh berarti dalam hidup saya. Belum pernah saya merasakan kebahagiaan dan kesedihan sekaligus. Sekali lagi, selamat berbahagia, paman. Selamat jalan, nenek. Doaku selalu ada untuk kalian.
 



>

Sabtu, 02 Agustus 2014

Kurikulum 2013: Pantaskah Diterapkan?

Menteri Pendidikan, M. Nuh, merombak habis-habisan kurikulum sekolah mulai tahun ajaran 2013/2014. Perubahan ini meliputi SD, SMP, SMA, SMK, sampai ke universitas. Dalam perencanaannya saja, sudah banyak pihak yang tidak setuju, walaupun sudah dipersiapkan dengan matang. Banyak juga pihak yang menganggap perombakan ini terburu-buru, tetapi sepertinya M. Nuh tetap keukuh dengan rencananya.

Penarapan kurikulum yang disebut sebagai Kurikulum 2013 ini akan dilakukan untuk kelas 1 dan 4 SD, kelas 1 SMP, dan kelas 1 SMA/SMK. Karena saya secara langung mengalami penerapan kurikulum ini, saya akan membahas berikut dengan sistem pendidikan Indonesia yang kata Pak Menteri sendiri, berbeda dengan negara-negara lain.

Di negara lain, SMA sudah tidak memakai penjurusan MIPA dan IPS lagi, tetapi memilih sendiri mata pelajaran yang disukai dengan ketentuan dari sekolah. Penjurusan MIPA dan IPS seperti itu tidak efektif. Tidak semua siswa jurusan MIPA menyukai empat mata pelajaran ini sekaligus: Matematika, Fisika, Biologi, Kimia. Tidak semua siswa jurusan IPS juga menyukai Sejarah, Sosiologi, Geografi, dan Ekonomi sekaligus. Ini kebijakan yang sangat bagus. Terima kasih Pak Menteri.

Grafik tentang jumlah jam pelajaran anak usia 7-14 tahun di beberapa negara dunia menunjukkan Indonesia butuh peningkatan 15% jam belajar agar setara dengan rata-rata dunia. Ya, kita masih dibawah rata-rata.

Menurut Kementrian, kurikulum 2006 yang sebelumnya berlaku masih banyak kekurangannya. Terlalu padat karena kebanyakan mata pelajaran, belum sepenuhnya berbasis dengan tujuan pendidikan kita. Kurikulum ini juga nggak mengutamakan kualitas sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Mereka juga berpendapat kalau kurikulum ini terlalu rigid, kaku. Dan detail di kurikulum 2006 ini tidak terlalu jelas, jadi ada banyak tindakan multitafsir; para guru menerapkan kurikulum ini sesuai pandangan mereka masing-masing yang pastinya berbeda satu sama lain.

Menutupi kekurangan itu, dibuatlah kurikulum 2013 dengan kelebihan yang diharapkan bisa menambal kekurangan kurikulum 2006. Mendetailkan tujuan dan mengurangi mata pelajaran. Potong mata pelajaran? Ya, banyak sekali mata pelajaran yang akan dipotong.

Di SD, TIK dan Bahasa Inggris dihapus. Katanya muatan lokal juga. Selain itu, pelajaran IPA-IPS  juga dikurangi. Kementrian masih labil antara memulai pelajaran IPA-IPS di kelas 4 atau kelas 5. Jadi anak SD akan belajar IPA-IPS hanya 3 atau 2 tahun. Sepanjang tidak punya mata pelajaran IPA-IPS, guru bisa memasukkan materi-materi pengetahuan umum itu lewat pelajaran-pelajaran lain seperti Bahasa Indonesia, PKN, dan lainnya. Meski begitu, jam belajar siswa SD yang biasa ditambah 6 jam.

Di SMP,  hanya TIK yang dihapus, tapi jam pelajaran ditambah 6 jam. Beberapa mata pelajaran yang tadinya cuma 2 jam per minggu akan dipelajari 3 jam per minggu, seperti PKN, Penjas, dan beberapa pelajaran lain.

Nah, kalau SMA, rencananya penjurusan bakalan dihapus. Dari 72 jam pelajaran yang tersedia, jam pelajaran wajib cuma 40 jam. Selain itu, UN di SMA dan SMK juga diusulkan dilaksanakan pada kelas 2, biar di kelas 3 nanti para siswa fokus ke SNMPTN (untuk siswa SMA) dan fokus ke sertifikasi keahlian (untuk siswa SMK).

Dalam penyiapan buku, pemerintah katanya akan menyediakan tiga jenis buku; buku siswa, buku panduan guru, dan dokumen kurikulum. Selain itu, dibahas juga soal pembelajaran di perguruan tinggi. Sebenarnya dulu ada di website Kementriannya sendiri, dalam bagian uji coba kurikulum. Di sana siapapun bisa download materi pdf-nya dan nulis komentar di situ. Tapi sayang sekali, Januari kemarin uji cobanya sudah ditutup.

Yang saya alami sepertinya tidak sama dengan apa yang direncanakan Pak M. Nuh. SMA katanya tidak ada penjurusan? Nyatanya, cuma katanya. Mau menyediakan tiga buku sekaligus? Satu untuk setiap mata pelajaran saja tidak ada. Di sekolah saya, (yang notabene adalah sekolah unggulan Kal-Tim) hanya mata pelajaran Sejarah Indonesia dan Bahasa Indonesia saja yang bukunya dari pemerintah. Entah memang tidak ada pendistribusiannya atau, ya tahu sendiri, lah. TIK dihapus? Katanya mau jadi bangsa yang maju dalam hal teknologi, pembelajaran teknologi kok dihapus? Katanya kurikulum baru siswa harus cari bahan ajar sendiri. Katanya mau menyiapkan guru master untuk pembelajaran. Katanya kurikulum baru banyak lebihnya. Katanya kurikulum baru akan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Katanya kurikulum baru akan mengubah nasib bangsa. Katanya.

Teman-teman saya di pelosok sana apa sudah punya fasilitas yang layak? Jangankan yang di pelosok, di kota saja masih kurang memadai. Jangankan fasilitas, guru saja minim jumlahnya. UN kelas dua, Pak? Supaya kami bisa fokus ke SNMPTN? Apa manfaatnya? Kurikulum sebelumnya juga bisa, kan tanpa setahun untuk fokus di SNMPTN? Terlalu pesimis kah Bapak akan kemampuan kami? SNMPTN bukan parameter kesuksesan, Pak.

Kurikulum 2006 terlalu kaku. Kurikulum 2013 membuat kami seperti robot. Masih pantaskah kurikulum 2013 diterapkan? Mari kita pikir lagi.

>

Senin, 23 Juni 2014

Menyontek? No Way!



Menyontek, kata yang sangat tidak asing bagi kehidupan para pelajar. Banyak yang beralasan melakukan kegiatan tersebut agar mendapat nilai yang bagus. Ya, memang. Dari alasan itulah, menyontek masih dilakukan walaupun salah.
            Pada 2008, Institut Josephson menyurvei hampir 30.000 murid SMA di Amerika Serikat, dan 64 persen mengaku menyontek saat ujian pada tahun itu. Namun, survei lain memperkirakan bahwa jumlah sebenarnya bahkan lebih tinggi—lebih dari 75 persen.
Di Eropa, menyontek juga sudah menjadi masalah serius, khususnya plagiarisme. ”Situs Web yang menjual esai para murid, tesis mahasiswa magister, dan disertasi doktor yang siap pakai adalah masalah baru dan semakin mengkhawatirkan,” kata artikel yang dimuat di jurnal elektronik Digithum.
Mengapa menyontek semakin mewabah? Bahkan ada yang mengatakan menyontek itu sebuah budaya.
Pertama, pengikisan etika.  ”Banyak pendidik mengatakan bahwa menyontek semakin merajalela akibat pengikisan etika dalam kebudayaan yang mementingkan diri sendiri,” kata American School Board Journal. Mengenai kelas anak-anak berprestasi, salah seorang siswinya mengaku, ”Kami semua menyontek karena kami butuh nilai bagus supaya diterima di sekolah yang bermutu. Kami murid yang baik dan bermoral, kami bukannya tidak beretika. Kami ingin masuk ke universitas bergengsi.” Beberapa orang tua pun telah ”terjangkit” wabah ini. Karena ingin sekali melihat anak-anaknya ”sukses”, mereka menyetujui atau menutup mata sewaktu anak-anaknya menyontek, sehingga etika anak-anak mereka semakin terkikis.Ya bagaimana tidak? Orang tuanya saja menyetujui.
Kedua, tekanan untuk sukses. Menurut Donald McCabe, pendiri Pusat Integritas Akademis Internasional, murid-murid yang menyontek percaya bahwa lebih baik menyontek dan tidak ketahuan daripada bersikap jujur.
Ketiga, adanya bantuan teknologi. Teknologi modern mempermudah murid-murid menyontek dengan cara yang canggih. Mereka bisa mengunduh karangan ilmiah dan jawaban PR dari Internet dan membagikannya untuk murid lain. Sering kali, hanya sedikit yang ketahuan, sehingga yang lain berani melakukannya.
Keempat, pengaruh dari contoh buruk. Kecurangan sudah jamak di dunia orang dewasa—dalam perusahaan besar, politik, olahraga, bahkan di rumah, sewaktu orang tua mencurangi pajak penghasilan atau klaim asuransi. ”Kalau seseorang yang berwenang atau menjadi anutan bertindak curang,” kata David Callahan, penulis The Cheating Culture, ”saya rasa itu membuat anak muda berpikir bahwa menyontek sah-sah saja.” Benarkah demikian? Apakah menyontek demi nilai bagus bisa dibenarkan?
Dari sekian banyaknya alasan untuk menyontek, sekarang mari kita bahas alasan mengapa kita harus memerangi kegiatan menyontek.
Pikirkanlah, “Apa tujuan pendidikan yang baik” Bukankah untuk memperlengkapi para pelajar menghadapi banyak tanggung jawab dalam kehidupan, misalnya menganalisa dan mengatasi masalah di tempat kerja? Murid-murid yang suka menyontek bisa jadi tidak mendapatkan keterampilan berharga tersebut. Jadi, orang yang terbiasa berbuat curang menutupi kelemahan mereka dan mengurangi kesempatan untuk sukses dalam banyak bidang kehidupan.
Yang lebih penting, ”orang yang sejak awal terbiasa mencari jalan pintas dalam kehidupan—misalnya sering menyontek di sekolah—akan begitu juga saat ia bekerja kelak”, kata Callahan. Boleh dikata, orang-orang semacam itu mirip pakaian atau arloji bermerek tetapi palsu—terlihat asli namun ujung-ujungnya mengecewakan.
Para penyontek juga berisiko ketahuan dan menderita konsekuensinya. Setidaknya, mereka mungkin merasa risih, gelisah, dan malu. Tetapi, mereka juga bisa dikeluarkan dari sekolah atau bahkan mendapat sanksi yang lebih berat. Ada peribahasa yang mengatakan “apa yang kamu tuai, itulah yang kamu tabur”.  Namun, sebaiknya rasa takut ketahuan tidak dijadikan alasan utama untuk bersikap jujur. Ada alasan-alasan yang jauh lebih luhur.
Pelajar yang bijak berupaya mengembangkan sifat-sifat yang berguna bagi mereka, bukan hanya untuk sukses di sekolah tetapi juga dalam kehidupan mereka. Karena itu, mereka bekerja keras di sekolah dan berupaya mengembangkan norma-norma yang meningkatkan harga diri, yang akan dihargai oleh calon atasan mereka, dan akan menghasilkan kebahagiaan yang bertahan lama.
Jadi, masih berpikir untuk menyontek? J
>

Rabu, 04 Juni 2014

Pengaruh Internet Terhadap Remaja



Internet, kata yang tidak asing ditelinga setiap orang, terutama para remaja yang senantiasa bergaul dengan mewahnya dunia yang bertekhnologi, mewah, dan praktis.  Internet bisa didapatkan di manapun kita berada. Dengan bermodalkan telepon selular yang memiliki koneksi internet, internet dapat diakses dengan mudahnya melalui HP dimanapun kita berada, atau jika tidak, sering terdapat sebuah warung yang menjual jasa internet atau yang biasa disebut dengan “Warnet”.  Dunia informasi tanpa batas, begitulah orang-orang menyebutnya.  Dengan adanya internet, akses atau jalan terhadap penyampaian informasi-informasi yang ada didunia ini dapat diambil dengan mudahnya, semudah membalikkan telapak tangan.
Internet memuat ilmu pengetahuan yang begitu melimpah. Informasi mengenai apapun dapat kita temukan di internet. Lalu apa hubungannya dengan siswa? Tentu saja sangat erat hubungannya dengan siswa karena siswa tidak luput dengan yang namanya informasi dan ilmu pengetahuan. Internet adalah media yang paling efektif dan mudah untuk didapatkan dan diakses oleh siapa saja dan di mana saja, walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa karena adanya kebebasan ini dapat terjadi pula penyalahgunaan fasilitas internet sebagai sarana untuk kriminalitas atau asusila. Siswa yang baru mengenal internet biasanya menggunakan fasilitas ini untuk mencari hal yang aneh-aneh, seperti gambar-gambar yang tidak senonoh, atau video-video aneh yang bersifat “asusila” lainnya yang dapat mempengaruhi jiwa dan kepribadian dari siswa itu sendiri, sehingga siswa terpengaruh dan mengganggu konsentrasinya terhadap proses pembelajaran di sekolah.
Namun, tidak semua siswa melakukan hal tersebut, hanya segelintir siswa-siswa yang usil saja yang  melakukannya karena kurang memiliki rasa tanggung jawab terhadap diri pribadi dan sekitarnya. Namun, pada umumnya internet digunakan oleh setiap siswa untuk mencari atau mendapatkan informasi yang berhubungan dengan materi pelajaran yang diterima di sekolah. Hal itu memungkinkan siswa menjadi lebih kreatif dan lebih aktif dalam mencari sumber informasi dan ilmu pengetahuan dibandingkan dengan siswa-siswa yang hanya duduk diam di depan meja dan mendengarkan gurunya berbicara.
Hal ini dapat menjadi sebuah motivator terhadap siswa untuk terus berkembang dan juga dapat berfungsi sebagai penghancur (generasi muda). Remaja adalah makhluk yang rentan terhadap perubahan di sekitarnya. Dia akan mengikuti hal yang paling dominan yang berada di dekatnya.  Jadi, kemungkinan terjadinya perubahan yang drastis dalam masa-masa remaja akan mendorong kearah mana remaja itu akan berjalan, kearah positif atau negatif tergantung dari mana dia memulai.
Remaja yang kesehariannya bergaul dengan internet akan lebih tanggap terhadap perubahan informasi disekitarnya karena ia terbiasa dan lebih mengetahui tentang informasi-informasi tersebut sehingga dia lebih daripada yang lainnya. Akan tetapi, remaja yang memiliki kecenderungan pada hal yang negatif justru sebaliknya.  Dia akan nampak pasif karena hanya diperbudak oleh kemudahan dan kayaan informasi dari internet tersebut.
Maka dari itu, alangkah baiknya jika kita bisa dengan bijak menggunakan fasilitas ini dengan sebaik-baiknya dalam hal yang positif demi kemajuan diri dan pribadi kita. Selaku remaja, kita semua harus dapat menguasai teknologi yang sedang  berkembang pesat pada era globalisasi ini.
>