Liburan
ini saya pergi ke dua kota berbeda. Saya mungkin salah satu dari sekian orang
yang beruntung tidak liburan di rumah saja. Pelajaran satu. Kenapa pelajaran
satu? Karena di liburan kali ini saya mendapatkan banyak sekali pelajaran
hidup.
Kota
Bandung adalah kota pertama yang lebih dulu saya tuju. Katanya, Kota Bandung
adalah kota dengan sejuta cerita. Setiap orang pasti punya cerita di Kota
Kembang ini. Awalnya, saya tidak setuju dengan pendapat ini, mungkin karena
saya belum pernah menginjakkan kaki di kota ini dan ini adalah kali pertama.
Tujuan
utama saya datang ke kota yang satu ini adalah untuk menghadiri pernikahan adik
dari ayah saya yang diadakan pada tanggal 21 Juni 2014. Saya sekeluarga
berangkat dengan pesawat 18 Juni malam. Kami tidak langsung pergi ke Bandung,
kami singgah di Jakarta karena ayah saya harus menyelesaikan pekerjaannya di
sana. 19 Juni sore barulah kami berkendara menuju Bandung.
Sampai
di Bandung, hari sudah malam. Bermalamlah kami di sebuah hotel di Jalan
Soekarno-Hatta. Perjalanan yang melelahkan.
Esok
harinya, kami melakukan gladi resik untuk acara pemberkatan pernikahan paman
yang dilaksanakan di Gereja HKBP Reformanda. Saya dan adik perempuan saya
mendapat kehormatan untuk mengiringi pengantin berjalan menuju altar dengan
permainan piano lagu Amazing Grace.
Setelah
gladi resik dirasa cukup, kami berkumpul di rumah saudara saya untuk
membicarakan tugas masing-masing anggota keluarga di dalam pesta adat yang
dilaksanakan setelah acara pemberkatan. Dalam adat Batak, banyak sekali
peran-peran yang harus dilakoni masing-masing anggota keluarga, terutama
laki-laki. Saya mendapat tugas menjadi seksi dokumentasi. Memang kami menyewa tim
photographer, tetapi tradisi kami,
kurang lengkap rasanya kalau tidak punya dokumentasi sendiri.
Esok
harinya, hari yang ditunggu-tunggu tiba. Rangkaian acara berjalan dengan
lancar, sesuai harapan. Inilah salah satu foto yang saya ambil ketika
menjalankan tugas saya sebagai seksi dokumentasi di dalam pesta adat.
Awalnya
saya tidak mengira undangan yang datang akan sebanyak ini karena setahu saya
yang akan datang hanya keluarga Harianja (nama keluarga saya). Tetapi ternyata,
semua marga yang ada hubungannya dengan marga Harianja, ditambah teman-teman
dari pengantin.
Pesta
adat ini berlangsung hingga malam hari. Usai acara selesai, semua anggota
keluarga kembali berkumpul untuk mereview
acara hari itu. Semuanya merasa senang dan bangga atas berhasilnya pesta adat
itu.
Dari
rumah tempat berkumpul tersebut, kami akhirnya pulang ke hotel untuk beristirahat.
Tetapi siapa sangka, saat perjalanan tersebut ibu saya mendapat kabar bahwa
nenek saya dari ibu dalam keadaan koma. Pelajaran kedua, kebahagiaan yang
datang akan selalu diikuti dengan datangnya kesedihan.
Sampai
di hotel, kami mendapat kabar lagi bahwa nenek sudah dibawa ke rumah sakit dan
keaadaannya sudah lebih baik. Puji Tuhan.
Esoknya,
dengan perasaan yang sudah lebih tenang, kami memulai perjalanan wisata kami. Kami mulai dengan Tangkuban Perahu, dilanjutkan dengan Kampung Gajah. Kemudian besoknya (tanggal 23), kami mampir sebentar ke Cheap Outlet untuk membeli beberapa keperluan lalu mengunjungi beberapa saudara kami yang ada di Bandung dan Cimahi.
Tanggal 24, seharian kami
mengunjungi museum-museum. Mulai dari Museum Geologi, Museum Pos Indonesia, dan
Museum Konfrensi Asia-Afrika. Kami tidak mengeluarkan sepeser uangpun untuk
tiket masuk. Untuk Museum Geologi, harusnya kami membayar Rp. 17.000,-, tetapi
karena kami mempunyai saudara yang jabatannya cukup tinggi di sana, jadi kami
masuk dengan gratis. Bukan nepotisme, kalau kami ditawari gratis, sementara ada
yang bayar, siapa yang tidak mau? Pelajaran tiga, orang-orang Indonesia sudah
terbiasa akan adanya nepotisme.
Next
day, kami pergi ke Observatorium Bosscha. Kalau pernah menonton film “Petualangan
Sherina”, pasti tahu tempat ini. Untuk mengunjungi tempat ini, kita harus
reservasi terlebih dahulu. Saya tidak tahu pasti sebabnya mengapa. Saya belajar
banyak tentang luar angkasa, yang ternyata sangat menyenangkan untuk di
pelajari. Untuk yang penasaran, inilah tempatnya.
Kalau pergi ke luar kota, kurang
lengkap rasanya kalau tidak membeli buah tangan. Apalagi orang Kalimantan yang
apa-apa serba mahal berkunjung ke Jawa yang jauh lebih murah. Kami menghabiskan
waktu seharian berkeliling tempat belanja favorit di ibukota provinsi Jawa
Barat ini.
Selanjutnya, kami pergi ke tempat di
mana orang bilang “kalau tidak ke situ, bukan ke Bandung namanya”. Ya, Trans
Studio! Trans Studio merupakan salah satu wahana indoor terbesar se-Asia Tenggara. Di sini tentunya kurang afdol
kalau tidak menghabiskan waktu seharian untuk bermain. Melelahkan memang,
tetapi sangat seru.
Tanggal 28 dini hari, kami berangkat
ke Jakarta. Pesawat kami tanggal 29 memang, tetapi orang tua saya ingin ke PRJ
(Pekan Raya Jakarta). Katanya, di sana harga barang elektronik seperti kamera, handphone, dan notebook sangat murah. Sampai di Jakarta, kami langsung menuju PRJ
yang dikenal juga dengan Jakarta Fair.
Biaya tiket masuk kisaran Rp. 20.000,- sampai Rp. 40.000,-, tergantung hari apa
kita mengunjunginya. Ternyata harga barang-barang di sana memang sangat murah. Saya
dibelikan lensa kamera baru oleh Ayah karena kata beliau IP saya bagus. Terima
kasih, Ayah.
Setelah puas menjelajah PRJ, kami
pergi ke hotel untuk beristirahat karena esoknya kami akan terbang kembali ke
Samarinda. Ya, itulah akhir perjalanan saya di Bandung. Sekarang saya juga punya cerita di Bandung, seperti kata
orang-orang. J
Tidak sampai seminggu sampai di
Samarinda, kami dapat kabar bahwa nenek dari ibu saya kembali kritis. Kata
paman saya, nenek saya terus memanggil nama ibu saya. Akhirnya, karena saya
masih mempunyai sisa hari libur yang panjang, ikutlah saya ke Medan untuk
menjenguk nenek saya. Yang pergi hanya saya dan ibu saya. Tanggal 4 Juli kami
berangkat dan sampai di Medan malam.
Ketika kami sampai, kami langsung masuk
ke kamar nenek saya. Kondisinya memang sangat kritis. Tiga hari belakangan
beliau tidak mau maupun makan dan minum. Beliau juga menolak untuk di bawa ke
rumah sakit. Yang beliau lakukan hanyalah terus memanggil nama ibu saya.
Malam itu, kami sekeluarga berdoa
bersama-sama untuk mengikhlaskan kepergian nenek. Bukan maksud kami ingin beliau
cepat-cepat pergi. Tetapi, hati kami sudah sakit sekali melihat beliau
menderita. Lebih baik nenek tenang di sana, tanpa penderitaan bersama kakek.
“Borhat
ma opung, loja ho opung”, kalimat itu yang saya bisikkan di telingan nenek
saya sambil menangis. “Berangkatlah, nek. Nenek sudah lelah” adalah arti
kalimat tersebut. Masing-masing anggota keluarga membisikkan kalimat keikhlasan kepergian
nenek.
Malam itu, anggota keluarga yang
laki-laki tidur di sekitar kamar nenek, sedangkan yang perempuan, termasuk saya
dan ibu saya, tidur di kamar tamu.
Dini hari, sekitar pukul 02.30, kami
mendengar suara tangisan perempuan dari luar kamar kami. Tetapi kami
menganggap itu hanyalah ilusi belaka karena kami kelelahan sehabis menempuh
perjalanan.
5 Juli, pukul 05.00 kami bangun,
mendapati nenek sudah pergi dengan damai. Tangis kami pecah saat itu juga,
melihat sosok yang kami cintai sudah tidak bernyawa. Ada sedikit kelegaan
karena akhirnya beliau tidak lagi harus menanggung sakit di dunia. Pelajaran ke
empat, terkadang kita harus mengikhlaskan atau merelakan hal yang kita ingin
selalu ada, untuk sesuatu yang lebih baik. Selamat jalan, nek.
Sebagai suku Batak, adat harus
segera dilaksanakan. Semua berjalan lancar hingga saat nenek dikebumikan. Kami
satu persatu memasukkan segenggam tanah ke dalam liang lahat nenek di kampung halamannya,
tradisi kami orang Batak agar diberkati oleh leluhur. Setelah makam nenek di
tutup, kami mencuci muka kami sebanyak tiga kali dengan air di atas
makam nenek, agar wajah kami selalu diingat oleh orang yang meninggalkan kami.
Adatnya memang seperti itu.
Sehabis
mencuci muka, kami, cucu-cucu nenek menanam tunas tanaman di tempat peristirahatan
nenek tersebut. Kami harus menanamnya dengan baik, karena dalam adat orang
Batak jika tanaman tersebut tumbuh subur, hendaklah berkat yang diterima juga
semakin banyak. Menanam tunas tersebut harus dengan tangan kosong. Saya menanam
di atas bagian kaki, karena saya keturunan dari anak terakhir.
Pelajaran
kelima yang saya dapatkan, adat orang Indonesia sangat beragam macamnya. Bukan
hanya suku Batak, tetapi setiap suku di Indonesia. Memang kadang ada adat yang
tidak sesuai dengan zaman sekarang. Tapi yang kita resapi bukanlah hal-hal yang
tidak sesuai tersebut, tetapi nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Pelajaran-pelajaran
hidup yang sungguh berarti dalam hidup saya. Belum pernah saya merasakan
kebahagiaan dan kesedihan sekaligus. Sekali lagi, selamat berbahagia, paman.
Selamat jalan, nenek. Doaku selalu ada untuk kalian.