Persahabatan itu seperti ujung kuku, jika dipotong akan tumbuh lagi. Oleh karena itu aku dan kamu harus tetap bersama selamanya!’’.
Pada dasarnya, Qiella lebih pandai daripada Sonia. Tapi, dia sangat rendah hati. Sebenarnya, Sonia iri pada Qiella karena Qiella selalu dipuji guru. Sampai suatu hari, irinya berubah menjadi rasa benci.
‘’Hai, Sonia, selamat pagi!’’ sapa Qiella suatu pagi. Sonia tidak menjawab. Dia hanya mendengus kesal. ‘’ Sonia kenapa, ya? Tidak biasanya dia begitu. Apa aku ada salah padanya, ya? Tapi, apa?’’ pertanyaan itu terus berputar di kepala Qiella. Saat istirahat, Qiella memberanikan diri untuk bertanya kepada Sonia. ‘’Sonia!’’ panggil Qiella. Sonia berbalik dan berkata, “ Apa lagi, kamu mau menunjukkan kepandaianmu kepadaku? Kamu pikir kamu paling hebat, ya? Ternyata aku salah menganggap kamu sebagai sahabat, kamu hanyalah orang sombong yang mau menang sendiri. Aku benci kamu!’’. Dia mendorong Qiella dan tepat saat kata terakhir, ia menitikkan air mata lalu lari tanpa arah.
Qiella yang jatuh, meringis kesakitan karena lututnya berdarah. Dia tidak menyangka bahwa sahabatnya itu tega mengatakan seperti itu padanya. Di sisi lain, memang ada sifat-sifat Sonia yang tidak disukai Qiella. Menurut Qiella, Sonia itu orangnya egois dan mau menang sendiri. Contohnya saja, jika ada kerja kelompok. Sonia selalu ingin menjadi ketua. Dan lebih parahnya lagi, saat dia menjadi ketua, dia bukannya menjadi contoh pemimpin yang baik, tetapi selalu menyuruh-nyuruh temannya yang lain. Terlebih, saat latihan soal. Dia selalu bertanya pada Qiella, tetapi saat ditanyai, dia tidak mau memberitahu.
Hari-hari begitu sepi tanpa canda tawa keduanya. Kata teman-temannya, kalau mereka tidak bersama, rasanya seperti berada di dunia orang bisu. Tetapi, anehnya prestasi Qiella semakin bagus sedangkan Sonia kerap kali dipanggil guru karena nilai-nilai ulangannya yang buruk dan sifatnya yang semakin tidak sopan. Memang, sejak bermusuhan dengan Qiella, dia berkawan dengan anak-anak berandalan di sekolah mereka, yaitu Geng Rockstyle.
Suatu hari ada lomba membaca puisi tingkat sekolah dasar. Qiella dan Sonia mewakili sekolah mereka karena mereka memiliki kemampuan yang sama bagusnya di bidang sastra. Qiella membacakan puisi karyanya yang berjudul ‘’ Rinduku, Sahabat ‘’ dan Sonia membacakan puisi karyanya juga yang berjudul ‘’ Lebih dari Indah’’.
Inilah akhir ceritaku kepadamu sahabat Semoga engkau bahagia di sana Salam rinduku untukmu, sahabat
Itulah bait terakhir puisi Qiella. Sonia pastinya tidak mau kalah dan membacakan puisinya.
Mimpikanku dalam tidurmu Ingat aku dalam setiap langkahmu
Dan ucap namaku di setiap doamu Karena engkau sahabat yang lebih dari indah
Selesai sudah lomba pembacaan puisi, tibalah saat yang ditunggu-tunggu yaitu pengumuman pemenang. ‘’Juara ketiga, Intan Savira dari SD Tunas Karya!’’ suara MC membacakan pemenangnya. Tepuk tangan riuh mengiringi gadis itu naik ke panggung. ‘’Juara kedua, Sophia Talita, dari SD Favorit Rockport!’’ tepuk tangan kembali memenuhi seisi ruangan. ‘’Nah, untuk juara pertama, ada dua orang karena nilainya kembar, mereka adalah…’’ MC sengaja menghentikan perkataannya, sehingga membuat para peserta tegang. Qiella dan Sonia sama-sama berharap menjadi juara. ‘’ Reheqiella Zivora dan Sonia Kirana, dari New York Elementary School !’’ teriak sang MC. Tepuk tangan membahana saat keduanya naik ke panggung. ‘’ Huh, kenapa sih, aku harus sama-sama juara satu dengan dia? ‘’ gerutu Sonia. Terlihat Miss Lolita menangis haru melihat kedua anak didiknya menerima tropi dan sejumlah uang tunai. Miss Lolita adalah guru Sastra di New York Elementary School.
Saat turun dari panggung, usai acara penerimaan tropi selesai, Miss Lolita menghampiri kedua anak didiknya.’’ Wah, hebat murid New York Elementary School, sama-sama juara pertama!’’ ujar Miss Lolita bangga. ‘’ Terima kasih, miss!’’ ujar keduanya bersamaan. Sonia tampak memajukan bibirnya karena kesal.
Sejak kejadian itu, Qiella dan Sonia semakin menjadi musuh saja. Tetapi, suatu kejadian yang tak terduga membuat semuanya berubah.
Hari itu Qiella dan Sonia dipanggil kepala sekolah. ‘’ Ma..ma..maaf, Pak, ada apa Bapak memanggil kami?’’ tanya Qiella gugup. Pak Kepala Sekolah malah tertawa. ‘’Hahaha…kalian jangan terlalu gugup, Bapak tidak akan memakan kalian, kok. Bapak hanya ingin memberitahu kalian bahwa…’’ kepala sekolah menghentikan perkataannya. ‘’Kenapa, Pak?’’ tanya Sonia. ‘’ Hasil tes darah kemarin membuktikan bahwa kalian memiliki kecocokan darah sebesar 98%,’’ kata kepala sekolah sambil menyerahkan sebuah amplop kepada Sonia. ‘’Kemungkinan besar kalian adalah saudara kembar. Dari tes darah tersebut, ibunya Qiella, Kenny Liana, memiliki sampel darah yang sama dengan kalian berdua,’’ jelas kepala sekolah panjang lebar. Sonia yang melihat surat itu tersentak, matanya terbelalak ‘’ Kenny Liana? ’’.
‘’Benar,’’ kata kepala sekolah.‘’ Di..di..dia ibuku?’’ Sonia tidak percaya. ‘’ Benar, nak. Aku ibumu,’’ jawab Bu Kenny tiba-tiba. Memang dari tadi beliau sudah berada di sana, lalu ia menghampiri keduanya dan mendekap keduanya dengan erat. Qiella dan Sonia berpandangan setelah lepas dari dekapan Bu Kenny.
‘’ Begini ceritanya,’’ Bu Kenny memulai percakapan. ‘’ Waktu itu, tanggal 5 Juli tahun 1999, tepatnya pukul 04.00 dini hari mama dilarikan ke Rumah Sakit Harapan Kasih, karena sudah mengeluh kesakitan dan akan melahirkan. Jam 04.15 Qiella lahir. Disusul oleh Sonia yang lahir tujuh menit kemudian. Setelah melahirkan Sonia, mama sempat tidak sadarkan diri. Jadi, pada awalnya mama tidak tahu bahwa Sonia sudah lahir. Tapi yang lebih buruknya lagi, perawat di rumah sakit itu salah member nama pada gelang bayi Sonia. Sehingga, saat pulang dari rumah sakit, mama tidak membawa Sonia,’’ Bu Kenny berdehem.’’ Dan sejak saat itu, Sonia dirawat oleh perawat rumah sakit yang bernama Selia Sofia,’’ lanjut Bu Kenny. “ Benar, ‘’ kata Sonia menyetujui. ‘’ Lalu, saat mama ke rumah sakit itu lagi, perawat itu mengatakan bahwa Sonia adalah anak mama. Mama meminta melakukan tes DNA terhadap kamu dan Qiella. Ternyata hasilnya cocok! Mama lega karena sekarang, mama mepunyai dua gadis yang manis,’’ kata Bu Kenny sambil tersenyum. Lalu, Qiella dan Sonia berpelukan.
‘’ Ternyata kamu adalah saudaraku, Sonia, ‘’ kata Qiella. ‘’Benar, kita adalah saudara. Kamu mau, kan, memaafkanku?’’ tanya Sonia. “ Oh, itu sudah pasti, kamu?’’ tanya Qiella. “ Pasti, dong!” katanya ceria.
>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar