Tiga tahun bersekolah memang terasa
singkat. Apalagi dua tahun. Ya, dua tahun. Puji Tuhan, aku lulus tes kelas
akselerasi. Dari sanalah semuanya berawal. Keceriaan dan tawa sukacita yang ada
saat hal manis datang. Tak lupa, bumbu pahit kenangan yang membuat duka
menghampiri. Semuanya aku rasakan dalam indahnya kehidupan remaja SMP.
Perkenalkan, namaku
Grace, 13 tahun. Umurku memang masih belia. Tetapi, aku punya segudang cerita
untuk disampaikan. Cerita yang satu ini adalah yang paling berkesan sampai saat
ini.
Aku bersekolah
di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Samarinda, salah satu sekolah favorit di
Ibukota Kalimantan Timur ini. Tak banyak orang yang bisa lulus di sekolah
ternama yang satu ini, itulah sebabnya aku sangat bersyukur kepada Tuhan karena
bisa bersekolah di sini.
Kelas akselerasi
yang aku diami ini merupakan angkatan ke-10 dan yang terakhir. Mengapa begitu?
Terlalu banyak pendapat yang tidak menyetujui adanya kelas akselerasi.
Alasannya berbagai macam. Guru yang tidak siap mengajar, sistem pembelajaran
yang salah, pemotongan waktu bermain siswa, dan lain-lain. Pada kenyataan sih,
memang benar. Jadi aku setuju saja kelas kami merupakan angkatan terakhir.
Kelas kami
memakai huruf K, pada awalnya. VII-K, VIII-K. Tetapi pada waktu kelas sembilan,
menjadi IX-J. Kami sempat memprotes perubahan nama tersebut karena sembilan
angkatan sebelum kami selalu memakai identitas K. Tetapi apa boleh buat, kepala
sekolah memutuskan kami harus menggunakan huruf J karena hanya ada sembilan
kelas sembilan yang akan lulus bersama kami.
Keseharianku di
kelas ini sudah seperti keluarga saja. Aku sangat menyayangi mereka seperti
layaknya saudaraku. Semuanya ada dua puluh empat orang, termasuk aku. Masing-masing
punya kepribadian yang sangat unik. Setiap orang punya keistimewaan dan
kekurangan masing-masing. Hingga saatnya nanti, perbedaan karakter itulah yang
akan membuat setiap pribadi kami terkenang.
Selama hampir
dua tahun aku mendiami kelas ini, setiap harinya terasa begitu cepat. Rasanya
baru kemarin kami memperkenalkan diri kami masing-masing di depan kelas.
Tahu-tahu sekarang sudah mendekati ujian nasional saja. Dalam jangka waktu itulah,
aku belajar mengenal mereka, membagi kisahku, tangis dan tawaku. Banyak sekali
pengalaman yang kulewati bersama dua puluh tiga orang lainnya. Tentu saja
semuanya tak lepas dari pahit manisnya kehidupan.
Pahit yang
sering kali kami alami adalah pendapat khalayak ramai tentang kelas akselerasi
yang mengeksklusifkan diri, tidak suka bergaul dengan siswa-siswi lain, yang
pada intinya tentang pergaulan.
Menurutku sih,
kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bergaul dengan teman lainnya.
Tetapi, apa mau dikata. Waktu kami sangat terbatas. Pulang dari pembelajaran di
sekolah saja sudah pukul empat sore. Belum lagi kursus lainnya di luar jam
sekolah. Bagaimana kami dapat mengoptimalkan pergaulan kami? Waktu untuk kami
sendiri saja sudah sulit untuk mengaturnya.
Bukannya ingin
curhat. Kami selalu bertanya, apakah mereka pernah memikirkan apa yang kami
pikirkan? Merasakan apa yang kami rasakan? Dikejar waktu demi menggapai cita?
Lelahnya belajar dari pagi hingga malam? Aku rasa, peduli saja tidak.
Mereka hanya
tahu bahwa kami anak-anak cerdas secara intelektual, yang tahu segalanya,
mengerti segalanya. Guru pun mempunyai pola pikir yang sama. Lalu apa yang
terjadi? Pembelajaran kami menjadi tidak lengkap. Ada materi yang seharusnya
dijelaskan tetapi guru yang bersangkutan tidak menjelaskannya. Akibatnya?
Beberapa soal ulangan ada yang kami tidak mengerti. Jadi, dalam sebagian besar
pelajaran kami harus berusaha sendiri, berkembang sendiri, membuka dunia
pengetahuan yang luas ini sendiri. Ya, setidaknya masih ada orang tua kami yang
membantu.
Lagi, keberadaan
kelas kami yang dipentingkan jika ada suatu hal yang pantas untuk
diperbincangkan saja. Pendapatku sih seperti itu. Jika kami melakukan kesalahan
sedikit saja, semua warga sekolah langsung menyorot kami. Menyalahkan kami karena
kami seharusnya menjadi contoh. Aku sadar akan hal itu. Tetapi kami juga
manusia biasa, pasti pernah melakukan kesalahan. Mereka tidak pernah menganggap
kami seperti itu.
Aku berpikir
ulang. Ternyata selama ini ada konsep pemikiran yang salah tentang kelas
akselerasi. Seharusnya kelas akselerasi itu percepatan, bukan dipercepat.
Seharusnya lama jam belajar kami sama dengan kelas lainnya, tanpa ada jam
pelajaran tambahan. Seharusnya selama tujuh setengah jam waktu belajar itu,
guru dapat menjelaskan materi pelajarannya dengan baik dan dapat dimengerti. Seharusnya.
Lepas dari duka
yang kami alami, begitu banyak suka yang kami alami bersama. Tak terhitung
berapa kali kami tertawa lepas bersama, menghilangkan sejenak lelah yang kami
dapat demi meraih mimpi. Setiap detik waktu yang kulewati bersama mereka,
merupakan kehangatan yang mungkin berbeda rasanya bila bukan mereka.
Satu pengalaman
yang paling menyenangkan adalah pembagian rapor kelas delapan semester dua.
Mengapa? Kami menginap di Balikpapan selama dua hari satu malam. Dua hari yang
sangat berkesan, menghabiskan waktu bersama teman-teman seperjuangan.
Dengan setelan
warna biru kebanggaan kami, kami berangkat menuju Balikpapan. Perjalanan yang
memakan waktu tiga jam dari Samarinda ini, dimulai dengan kunjungan kami ke Balikpapan Center (BC), salah satu pusat
perbelanjaan di kota beriman ini. Dengan setelan warna biru kebanggaan kami,
kami berangkat menuju Balikpapan. Di BC, kami bersantap siang guna mengisi
kembali tenaga kami yang sudah terkuras selama perjalanan karena terlalu banyak
bercanda.
Setelah mengisi
penuh perut kami, pukul satu siang, kami menuju wisma tempat kami menginap.
Wisma Kemala namanya. Kami dipersilahkan memilih teman sekamar kami sendiri.
Tentu kami sangat senang dan langsung memilih teman dan kamar yang cocok dan
nyaman bagi kami masing-masing.
Setelah satu jam
beristirahat, kami diajak ke pantai di belakang wisma untuk bermain beberapa
permainan, di antaranya permainan konsenstrasi, evakuasi, dan pipa bolong. Permainan-permainan
ini melatih kekompakan, kebersamaan, kelincahan, dan ketelitian. Tentu
sebelumnya kami sudah dibagi menjadi tiga kelompok yang masing-masing
beranggotakan delapan orang. Kelompok Biru, Kelompok Kuning, dan Kelompok
Merah. Tetapi Kelompok Biru hanya beranggotakan tujuh orang
dikarenakan satu orang dari teman kami tidak bisa ikut ke Balikpapan karena
dalam keadaan kurang sehat.
Ketiga permainan
ini berlangsung dengan seru dan dimenangkan oleh urutan juara yang sama. Juara
pertama diraih oleh Kelompok Biru, juara kedua diraih oleh Kelompok Kuning, dan
juara ketiga diaraih oleh Kelompok Merah. Setelah ketiga permainan tersebut,
kami diizinkan bermain di pantai hingga pukul lima sore.
Lelah bermain di
pantai, kami membersihkan diri. Saat itu kami sudah membuat janji dengan teman
seangkatan kami, kelas akselerasi SMPN 1 Balikpapan yang kami kenal lewat
jejaring sosial. Mereka ternyata lebih ramah dari yang kami perkirakan. Mereka
mengajak kami ke lapangan penerbangan helikopter atau biasa disebut helipad
yang tak jauh dari tempat kami menginap. Jadi kami memutuskan untuk berjalan
kaki saja. Selama perjalanan menuju helipad hingga perjalanan kembali ke wisma,
kami berbagi cerita tentang keseharian di sekolah. Ternyata mereka mengalami
hal yang sama dengan kami. Artinya, pemikiranku selama ini tentang konsep
pandangan kelas akselerasi benar.
Pukul delapan
malam, acara utama yang sangat ditunggu-tunggu, pembagian rapor. Wajah cemas
dan gelisah sangat jelas tergurat dalam setiap diri kami. Ketika hasilnya
diumumkan, berbagai reaksi tampak. Ada yang senang karena hasil yang
didapatkannya bagus, ada pula yang bersedih karena hasilnya mengecewakan.
Tetapi semuanya sejenak terlupakan karena kejadian malam hari yang sangat seru.
Hingga tengah
malam kami belum tidur, masih bercerita, bernyanyi diiringi gitar, dan banyak
kegiatan lain. Pak Djoko, kepala sekolah kami mengizinkan kami tidur kapan
saja, asal esok harinya dapat bangun tepat waktu. Kami bersorak kegirangan
karena momen itu adalah momen langka bagi kami.
Tengah malam,
beberapa dari kami usil mengganggu kamar laki-laki yang hanya enam orang
apalagi dikurangi satu teman kami yang tidak ikut. Mereka terlihat gusar,
tetapi justru itulah yang membuat kami semakin mengganggu mereka. Pada
akhirnya, mereka juga ikut mengganggu kami. Akhirnya, terjadilah perang antara
kubu perempuan dan kubu laki-laki untuk saling mengganggu. Tetapi perang
tersebut tidak berlangsung lama karena kami semua sudah lelah dan ingin segera
tidur. Malam itu diakhiri dengan senyum yang mengembang di wajah kami.
Esoknya, pukul
setengah enam pagi. Aku dan beberapa teman perempuan sudah bermain di pantai
sekaligus menunggu waktu permainan yang dimulai pukul tujuh. Permainannya
adalah membawa gelas berisi air dalam jarak yang sudah ditentukan. Kali ini,
juara pertama diraih oleh Kelompok Kuning, juara kedua diraih oleh Kelompok
Merah, dan juara terakhir diraih oleh Kelompok Biru.
Usai permainan,
kami disuruh untuk berberes-beres karena akan check out dari wisma tersebut dan
melanjutkan perjalanan ke waterpark untuk berenang. Kami berenang di Carribean Island Waterpark. Tidak
semuanya berenang, beberapa anak yang memang sengaja tidak membawa baju renang,
mengabadikan momen bahagia itu dengan kamera. Selepas berenang, kami mampir ke Balikpapan Super Block untuk makan siang
guna mempersiapkan tenaga untuk perjalanan pulang.
Perjalanan
pulang terasa hening karena sebagian besar dari kami tertidur karena lelah. Pukul
setengah tujuh malam, kami sampai di Samarinda. Perjalanan kami berakhir dengan
wajah lelah disertai dengan bahagia yang terpancar. Dua hari satu malam yang
menyenangkan di Balikpapan, 10 sampai 11 November 2012.
Menyenangkan
memang, mempunyai kenangan manis bersama orang-orang terdekatku. Mengisi waktu-waktu
hampaku dengan alunan kebahagiaan. Lewat tulisan ini, aku menyampaikan cerita
indahku bersama dua puluh tiga orang yang sangat berarti. Orang-orang yang memberikanku
rajutan kebersamaan dengan hangat tawa persahabatan dan tangis yang jatuh
bersama dengan tangisku. Mereka yang membuat hari-hari yang selama ini aku
anggap sangat membosankan terasa begitu hidup dan berjalan begitu cepat. Mereka
yang akan selalu jadi melodi indah yang akan kudengarkan di kala sepi
menghampiriku.
Terima kasih
karena kalian sudah mau menjadi keluarga keduaku, sahabat. Karena kalian, aku dapat
merasakan kebahagiaan itu di dalam kebersamaan kita. Memang, saat ini sudah
mendekati akhir dari perjalanan kita. Tetapi ingatlah sahabat, kenangan tentang
kita akan abadi untuk selamanya. Jangan pernah lupakan aku dan semua memori
persahabatan ini. Sekali lagi, terima kasih untuk petualangan selama dua tahun
yang sangat seru!
Bergegaslah
kawan
Sambut
masa depan
Tetap
berpegang tangan
Saling
berpelukan
Berikan
senyuman
Sebuah
perpisahan
Kenanglah
sahabat
Kita
untuk selamanya
♫ Bondan feat. Fade2Black - Kita
Selamanya