Minggu, 03 Februari 2013

Ketika Dua Tahun Menjadi Sangat Berarti…


Tiga tahun bersekolah memang terasa singkat. Apalagi dua tahun. Ya, dua tahun. Puji Tuhan, aku lulus tes kelas akselerasi. Dari sanalah semuanya berawal. Keceriaan dan tawa sukacita yang ada saat hal manis datang. Tak lupa, bumbu pahit kenangan yang membuat duka menghampiri. Semuanya aku rasakan dalam indahnya kehidupan remaja SMP.
Perkenalkan, namaku Grace, 13 tahun. Umurku memang masih belia. Tetapi, aku punya segudang cerita untuk disampaikan. Cerita yang satu ini adalah yang paling berkesan sampai saat ini.
Aku bersekolah di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Samarinda, salah satu sekolah favorit di Ibukota Kalimantan Timur ini. Tak banyak orang yang bisa lulus di sekolah ternama yang satu ini, itulah sebabnya aku sangat bersyukur kepada Tuhan karena bisa bersekolah di sini.
Kelas akselerasi yang aku diami ini merupakan angkatan ke-10 dan yang terakhir. Mengapa begitu? Terlalu banyak pendapat yang tidak menyetujui adanya kelas akselerasi. Alasannya berbagai macam. Guru yang tidak siap mengajar, sistem pembelajaran yang salah, pemotongan waktu bermain siswa, dan lain-lain. Pada kenyataan sih, memang benar. Jadi aku setuju saja kelas kami merupakan angkatan terakhir.
Kelas kami memakai huruf K, pada awalnya. VII-K, VIII-K. Tetapi pada waktu kelas sembilan, menjadi IX-J. Kami sempat memprotes perubahan nama tersebut karena sembilan angkatan sebelum kami selalu memakai identitas K. Tetapi apa boleh buat, kepala sekolah memutuskan kami harus menggunakan huruf J karena hanya ada sembilan kelas sembilan yang akan lulus bersama kami.
Keseharianku di kelas ini sudah seperti keluarga saja. Aku sangat menyayangi mereka seperti layaknya saudaraku. Semuanya ada dua puluh empat orang, termasuk aku. Masing-masing punya kepribadian yang sangat unik. Setiap orang punya keistimewaan dan kekurangan masing-masing. Hingga saatnya nanti, perbedaan karakter itulah yang akan membuat setiap pribadi kami terkenang.
Selama hampir dua tahun aku mendiami kelas ini, setiap harinya terasa begitu cepat. Rasanya baru kemarin kami memperkenalkan diri kami masing-masing di depan kelas. Tahu-tahu sekarang sudah mendekati ujian nasional saja. Dalam jangka waktu itulah, aku belajar mengenal mereka, membagi kisahku, tangis dan tawaku. Banyak sekali pengalaman yang kulewati bersama dua puluh tiga orang lainnya. Tentu saja semuanya tak lepas dari pahit manisnya kehidupan.
Pahit yang sering kali kami alami adalah pendapat khalayak ramai tentang kelas akselerasi yang mengeksklusifkan diri, tidak suka bergaul dengan siswa-siswi lain, yang pada intinya tentang pergaulan.
Menurutku sih, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bergaul dengan teman lainnya. Tetapi, apa mau dikata. Waktu kami sangat terbatas. Pulang dari pembelajaran di sekolah saja sudah pukul empat sore. Belum lagi kursus lainnya di luar jam sekolah. Bagaimana kami dapat mengoptimalkan pergaulan kami? Waktu untuk kami sendiri saja sudah sulit untuk mengaturnya.
Bukannya ingin curhat. Kami selalu bertanya, apakah mereka pernah memikirkan apa yang kami pikirkan? Merasakan apa yang kami rasakan? Dikejar waktu demi menggapai cita? Lelahnya belajar dari pagi hingga malam? Aku rasa, peduli saja tidak.
Mereka hanya tahu bahwa kami anak-anak cerdas secara intelektual, yang tahu segalanya, mengerti segalanya. Guru pun mempunyai pola pikir yang sama. Lalu apa yang terjadi? Pembelajaran kami menjadi tidak lengkap. Ada materi yang seharusnya dijelaskan tetapi guru yang bersangkutan tidak menjelaskannya. Akibatnya? Beberapa soal ulangan ada yang kami tidak mengerti. Jadi, dalam sebagian besar pelajaran kami harus berusaha sendiri, berkembang sendiri, membuka dunia pengetahuan yang luas ini sendiri. Ya, setidaknya masih ada orang tua kami yang membantu.
Lagi, keberadaan kelas kami yang dipentingkan jika ada suatu hal yang pantas untuk diperbincangkan saja. Pendapatku sih seperti itu. Jika kami melakukan kesalahan sedikit saja, semua warga sekolah langsung menyorot kami. Menyalahkan kami karena kami seharusnya menjadi contoh. Aku sadar akan hal itu. Tetapi kami juga manusia biasa, pasti pernah melakukan kesalahan. Mereka tidak pernah menganggap kami seperti itu.
Aku berpikir ulang. Ternyata selama ini ada konsep pemikiran yang salah tentang kelas akselerasi. Seharusnya kelas akselerasi itu percepatan, bukan dipercepat. Seharusnya lama jam belajar kami sama dengan kelas lainnya, tanpa ada jam pelajaran tambahan. Seharusnya selama tujuh setengah jam waktu belajar itu, guru dapat menjelaskan materi pelajarannya dengan baik dan dapat dimengerti. Seharusnya.
Lepas dari duka yang kami alami, begitu banyak suka yang kami alami bersama. Tak terhitung berapa kali kami tertawa lepas bersama, menghilangkan sejenak lelah yang kami dapat demi meraih mimpi. Setiap detik waktu yang kulewati bersama mereka, merupakan kehangatan yang mungkin berbeda rasanya bila bukan mereka.
Satu pengalaman yang paling menyenangkan adalah pembagian rapor kelas delapan semester dua. Mengapa? Kami menginap di Balikpapan selama dua hari satu malam. Dua hari yang sangat berkesan, menghabiskan waktu bersama teman-teman seperjuangan.
Dengan setelan warna biru kebanggaan kami, kami berangkat menuju Balikpapan. Perjalanan yang memakan waktu tiga jam dari Samarinda ini, dimulai dengan kunjungan kami ke Balikpapan Center (BC), salah satu pusat perbelanjaan di kota beriman ini. Dengan setelan warna biru kebanggaan kami, kami berangkat menuju Balikpapan. Di BC, kami bersantap siang guna mengisi kembali tenaga kami yang sudah terkuras selama perjalanan karena terlalu banyak bercanda.
Setelah mengisi penuh perut kami, pukul satu siang, kami menuju wisma tempat kami menginap. Wisma Kemala namanya. Kami dipersilahkan memilih teman sekamar kami sendiri. Tentu kami sangat senang dan langsung memilih teman dan kamar yang cocok dan nyaman bagi kami masing-masing.
Setelah satu jam beristirahat, kami diajak ke pantai di belakang wisma untuk bermain beberapa permainan, di antaranya permainan konsenstrasi, evakuasi, dan pipa bolong. Permainan-permainan ini melatih kekompakan, kebersamaan, kelincahan, dan ketelitian. Tentu sebelumnya kami sudah dibagi menjadi tiga kelompok yang masing-masing beranggotakan delapan orang. Kelompok Biru, Kelompok Kuning, dan Kelompok Merah. Tetapi Kelompok Biru hanya beranggotakan tujuh orang dikarenakan satu orang dari teman kami tidak bisa ikut ke Balikpapan karena dalam keadaan kurang sehat.
Ketiga permainan ini berlangsung dengan seru dan dimenangkan oleh urutan juara yang sama. Juara pertama diraih oleh Kelompok Biru, juara kedua diraih oleh Kelompok Kuning, dan juara ketiga diaraih oleh Kelompok Merah. Setelah ketiga permainan tersebut, kami diizinkan bermain di pantai hingga pukul lima sore.
Lelah bermain di pantai, kami membersihkan diri. Saat itu kami sudah membuat janji dengan teman seangkatan kami, kelas akselerasi SMPN 1 Balikpapan yang kami kenal lewat jejaring sosial. Mereka ternyata lebih ramah dari yang kami perkirakan. Mereka mengajak kami ke lapangan penerbangan helikopter atau biasa disebut helipad yang tak jauh dari tempat kami menginap. Jadi kami memutuskan untuk berjalan kaki saja. Selama perjalanan menuju helipad hingga perjalanan kembali ke wisma, kami berbagi cerita tentang keseharian di sekolah. Ternyata mereka mengalami hal yang sama dengan kami. Artinya, pemikiranku selama ini tentang konsep pandangan kelas akselerasi benar.
Pukul delapan malam, acara utama yang sangat ditunggu-tunggu, pembagian rapor. Wajah cemas dan gelisah sangat jelas tergurat dalam setiap diri kami. Ketika hasilnya diumumkan, berbagai reaksi tampak. Ada yang senang karena hasil yang didapatkannya bagus, ada pula yang bersedih karena hasilnya mengecewakan. Tetapi semuanya sejenak terlupakan karena kejadian malam hari yang sangat seru.
Hingga tengah malam kami belum tidur, masih bercerita, bernyanyi diiringi gitar, dan banyak kegiatan lain. Pak Djoko, kepala sekolah kami mengizinkan kami tidur kapan saja, asal esok harinya dapat bangun tepat waktu. Kami bersorak kegirangan karena momen itu adalah momen langka bagi kami.
Tengah malam, beberapa dari kami usil mengganggu kamar laki-laki yang hanya enam orang apalagi dikurangi satu teman kami yang tidak ikut. Mereka terlihat gusar, tetapi justru itulah yang membuat kami semakin mengganggu mereka. Pada akhirnya, mereka juga ikut mengganggu kami. Akhirnya, terjadilah perang antara kubu perempuan dan kubu laki-laki untuk saling mengganggu. Tetapi perang tersebut tidak berlangsung lama karena kami semua sudah lelah dan ingin segera tidur. Malam itu diakhiri dengan senyum yang mengembang di wajah kami.
Esoknya, pukul setengah enam pagi. Aku dan beberapa teman perempuan sudah bermain di pantai sekaligus menunggu waktu permainan yang dimulai pukul tujuh. Permainannya adalah membawa gelas berisi air dalam jarak yang sudah ditentukan. Kali ini, juara pertama diraih oleh Kelompok Kuning, juara kedua diraih oleh Kelompok Merah, dan juara terakhir diraih oleh Kelompok Biru.
Usai permainan, kami disuruh untuk berberes-beres karena akan check out dari wisma tersebut dan melanjutkan perjalanan ke waterpark untuk berenang. Kami berenang di Carribean Island Waterpark. Tidak semuanya berenang, beberapa anak yang memang sengaja tidak membawa baju renang, mengabadikan momen bahagia itu dengan kamera. Selepas berenang, kami mampir ke Balikpapan Super Block untuk makan siang guna mempersiapkan tenaga untuk perjalanan pulang.
Perjalanan pulang terasa hening karena sebagian besar dari kami tertidur karena lelah. Pukul setengah tujuh malam, kami sampai di Samarinda. Perjalanan kami berakhir dengan wajah lelah disertai dengan bahagia yang terpancar. Dua hari satu malam yang menyenangkan di Balikpapan, 10 sampai 11 November 2012.
Menyenangkan memang, mempunyai kenangan manis bersama orang-orang terdekatku. Mengisi waktu-waktu hampaku dengan alunan kebahagiaan. Lewat tulisan ini, aku menyampaikan cerita indahku bersama dua puluh tiga orang yang sangat berarti. Orang-orang yang memberikanku rajutan kebersamaan dengan hangat tawa persahabatan dan tangis yang jatuh bersama dengan tangisku. Mereka yang membuat hari-hari yang selama ini aku anggap sangat membosankan terasa begitu hidup dan berjalan begitu cepat. Mereka yang akan selalu jadi melodi indah yang akan kudengarkan di kala sepi menghampiriku.
Terima kasih karena kalian sudah mau menjadi keluarga keduaku, sahabat. Karena kalian, aku dapat merasakan kebahagiaan itu di dalam kebersamaan kita. Memang, saat ini sudah mendekati akhir dari perjalanan kita. Tetapi ingatlah sahabat, kenangan tentang kita akan abadi untuk selamanya. Jangan pernah lupakan aku dan semua memori persahabatan ini. Sekali lagi, terima kasih untuk petualangan selama dua tahun yang sangat seru!
Bergegaslah kawan
Sambut masa depan
Tetap berpegang tangan
Saling berpelukan
Berikan senyuman
Sebuah perpisahan
Kenanglah sahabat
Kita untuk selamanya

Bondan feat. Fade2Black - Kita Selamanya
>